Stasiun Klimatologi Sleman: Waspada Hujan di Musim Kemarau

Rep: c01/ Red: Fernan Rahadi

Hujan (ilustrasi)
Hujan (ilustrasi) | Foto: republika

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Secara normal, bulan Juni seharusnya masuk dalam musim kemarau. Namun, ternyata masih kerap terjadi hujan dengan intensitas yang tinggi di wilayah DIY. Prakirawan Stasiun Klimatologi Sleman, Sutamsi mengatakan kondisi tersebut terjadi karena ada beberapa fenomena alam yang memengaruhi kondisi iklim.

"Pertama itu masalah suhu muka laut, suhu muka laut di perairan Indonesia ini masih cukup hangat. Kemudian juga di bagian selatan jawa atau DIY juga masih cukup hangat. Kemudian yang kedua, secara global itu ada fenomena La Nina yang membentuk awan-awan hujan di DIY. Kemudian yang ketiga adalah angin Monsun Australia sudah mulai masuk tetapi pergerakannya lemah dan terjadi belokan angin di wilayah selatan atau di Daerah Istimewa Yogyakarta," ujar Sutamsi di Stasiun Klimatologi Sleman, Senin (20/6/2022).

Sutamsi menjelaskan dengan adanya tiga hal yang memengaruhi iklim tersebut maka terjadi hujan yang cukup tinggi di wilayah DIY. Suhu muka laut yang hangat mengakibatkan penguapan menjadi cukup tinggi. Penguapan tersebut berdampak pada kondisi udara yang lembab sehingga membuat banyak uap air yang menjadi potensi terjadinya hujan saat musim kemarau di DIY.

Menurut Sutamsi, diperkirakan intensitas hujan akan mulai menurun pada bulan September ketika pergerakan La Nina sudah melemah dan suhu muka laut sudah berubah menjadi lebih dingin. Sutamsi mengatakan meski intensitas hujan berkurang, namun angin Monsun Asia mulai aktif sehingga diperkirakan ketika puncak musim kemarau di bulan Agustus kemungkinan akan tetap terjadi hujan.

Sutamsi menjelaskan meski sudah memasuki musim kemarau tidak berarti tidak akan hujan. Akan ada hujan saat musim kemarau di wilayah DIY hanya saja dengan intensitas yang rendah. Namun, saat ini terjadi beberapa fenomena alam yang memengaruhi iklim sehingga mengakibatkan intensitas hujan di musim kemarau cukup tinggi.

Musim kemarau kali ini dapat dikatakan cukup basah. Menurut perkiraan, bulan Agustus menjadi puncak musim kemarau, namun tetap berpotensi hujan. Bulan September diperkirakan sudah mulai kering tetapi di Bulan 0ktober diprediksi sudah memasuki musim hujan kembali.

Menurut Sutamsi, beberapa wilayah di DIY masih masuk dalam musim hujan dengan kriteria curah hujan lebih dari 150 milimeter per bulan. Ia juga memberikan imbauan kepada masyarakat untuk mewaspadai fenomena hujan di musim kemarau ini karena akan menimbulkan banyak genangan-genangan jernih yang dapat berpotensi sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti.

"Kondisi sekarang ini sudah masuk kemarau tetapi masih terjadi hujan yang lebat disertai petir dan angin kencang dalam waktu singkat. Nah, itu yang perlu diwaspadai sehingga banyak terjadi baliho roboh, pohon tumbang. Kemudian juga, drainase perlu diperhatikan karena hujan lebat tetapi singkat. Kalau drainase tidak bagus maka terjadi luapan yang bisa menggenangi jalan dan rumah," ujar Sutamsi. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 

Terkait


Musim Kemarau Basah, Masyarakat Perlu Perkuat Ketahanan Tubuh

Ingin Berkendara Aman dan Nyaman Ketika Hujan, Perhatikan Ini

Doa pada Musim Hujan

BMKG: Hujan Berpeluang Turun di Sejumlah Kota Besar

Jambi Masuk Puncak Musim Hujan pada April

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark