'Kesehatan Mental Seharusnya Jadi Masalah Pendidikan'

Red: Fernan Rahadi

Co-Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Novi Poespita Candra, saat berbicara dalam Workshop Penguatan Kapabilitas Kepala Sekolah SMK di Provinsi Papua dan Papua Barat 2021 melalui Penguatan Ekosistem SMK Melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan dan Pengembangan Kemitraan Strategis dengan Dunia Kerja di Sorong, Papua Barat, Selasa (23/3).
Co-Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Novi Poespita Candra, saat berbicara dalam Workshop Penguatan Kapabilitas Kepala Sekolah SMK di Provinsi Papua dan Papua Barat 2021 melalui Penguatan Ekosistem SMK Melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan dan Pengembangan Kemitraan Strategis dengan Dunia Kerja di Sorong, Papua Barat, Selasa (23/3). | Foto: Republika/Fernan Rahadi

REPUBLIKA.CO.ID, SORONG -- Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) sebanyak 10 persen hingga 20 persen remaja di seluruh dunia mengalami masalah kesehatan mental. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketidakmampuan mereka dalam menghadapi pesatnya perkembangan teknologi digital.

"Hal ini seharusnya menjadi masalah pendidikan di Indonesia. Dengan demikian pendidikan jangan lagi hanya berbicara materi, kurikulum, prestasi, dan sertifikasi, namun juga masalah mental," kata Co-Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Novi Poespita Candra, saat berbicara dalam Workshop Penguatan Kapabilitas Kepala Sekolah SMK di Provinsi Papua dan Papua Barat 2021 melalui Penguatan Ekosistem SMK Melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan dan Pengembangan Kemitraan Strategis dengan Dunia Kerja di Sorong, Papua Barat, Selasa (23/3).

Di Indonesia, kata Novi, kasus masalah mental yang mempengaruhi perilaku di kalangan remaja sudah banyak jenisnya. Sebut saja perilaku tawuran, klithih, hingga bunuh diri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan GSM terhadap 200 siswa di Jawa Tengah baru-baru ini, kemunculan persoalan mental akibat pembelajaran daring telah mempengaruhi motivasi belajar mereka.

"Sebanyak 61 persen siswa merasa memiliki motivasi yang rendah untuk menjalani proses pembelajaran, 24 persen mempengaruhi disiplin mereka, sisanya (15 persen-Red) mengalami stres," kata Novi saat berbincang dengan Republika di sela-sela workshop tersebut.

Oleh karena itu, ia mendorong agar sekolah-sekolah di Indonesia menerapkan pembelajaran emosi dan sosial terhadap para anak-anak didiknya. Selama ini, penumbuhan karakter para siswa dilakukan melalui pembiasaan. Padahal, menurut dia, itu bukan langkah yang tepat. "Seharusnya yang ditekankan adalah kesadaran mereka," tutur Novi.

Hal itu tercermin pada karakter masyarakat Indonesia ketika berada di luar negeri. "Ketika orang Indonesia berada di negara maju, mereka terkenal sebagai orang yang patuh. Buang sampah pada tempatnya, mengantre dengan tertib, dan lain sebagainya. Namun ketika mereka kembali ke Indonesia, kebiasaan-kebiasaan tersebut berubah kembali sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya," kata Novi.

Menurut Novi, hal ini menandakan bahwa karakter pendidikan di Indonesia itu melompat langsung ke olah laku. Padahal sesuai ajaran bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara, untuk menumbuhkan karakter anak didik itu membutuhkan empat cara, yakni olahraga, olah pikir, olah rasa, dan olah laku.  "Jika keempatnya sudah terpenuhi maka karakter tersebut akan sampai kepada believe system dan menetap di sana. Sehingga begitu lingkungannya goyah, dia tidak akan terpengaruh," kata Novi yang juga merupakan dosen psikologi Universitas Gadjah Mada itu.

Founder GSM Muhammad Nur Rizal menekankan bahwa empat aspek pendidikan yang harus dipenuhi di masa depan adalah school connectedness, lingkungan positif dan etis, pembelajaran kontekstual yang relevan dengan kondisi, serta pembelajaran emosi dan sosial. Dengan demikian, paradigma pendidikannya harus berubah dari sebatas penguasaan terhadap pengetahuan menjadi well-being. "Artinya lulusan yang dihasilkan nanti selain bagus pengetahuannya, bagus mentalnya, bagus emosinya, bagus fisiknya, juga bagus spiritualnya," ujar Rizal.

Apalagi, menurut Rizal, di masa depan nanti tiga kompetensi yang paling dibutuhkan tidak lagi mencakup aspek akademis. "Yang pertama adalah kemampuan memecahkan masalah (problem solver), kemampuan sosial yang meliputi komunikasi negosiasi dan kolaborasi, serta kemampuan mental yakni kemampuan mengelola diri, mengelola emosi, dan kemampuan mengetahui kompetensi dirinya," tuturnya.

 

Terkait


Solo Persiapkan Pembukaan Kembali Car Free Day

'Kolaborasi Akar Rumput Diperlukan untuk Majukan Pendidikan'

'Pandemi Harus Jadi Momentum Ubah Paradigma Pendidikan'

MUI Papua Barat Angkat Bicara Soal Perpres Produksi Miras

KPK Dorong Pelaksanaan Evaluasi Izin Sawit di Papua Barat

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark