'SMK di Pelosok Bisa Jadi Sekolah yang Menyenangkan' 

Red: Fernan Rahadi

Guru SMKN 1 Jambu Kabupaten Semarang, Muhammad Ali Sodikin, saat berbicara dalam Workshop Penguatan Kapabilitas Kepala Sekolah SMK di Provinsi Papua dan Papua Barat 2021 melalui Penguatan Ekosistem SMK Melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan dan Pengembangan Kemitraan Strategis dengan Dunia Kerja di Sorong, Papua Barat, Rabu (24/3).
Guru SMKN 1 Jambu Kabupaten Semarang, Muhammad Ali Sodikin, saat berbicara dalam Workshop Penguatan Kapabilitas Kepala Sekolah SMK di Provinsi Papua dan Papua Barat 2021 melalui Penguatan Ekosistem SMK Melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan dan Pengembangan Kemitraan Strategis dengan Dunia Kerja di Sorong, Papua Barat, Rabu (24/3). | Foto: Republika/Fernan Rahadi

REPUBLIKA.CO.ID, SORONG -- Selama ini sekolah menyenangkan identik dengan sekolah mahal yang sanggup menyediakan berbagai fasilitas untuk para siswa. Namun ternyata hal tersebut tak sepenuhnya benar. SMK-SMK di desa dan daerah-daerah pelosok di Indonesia pun bisa menyelenggarakan kegiatan pembelajaran dengan konsep menyenangkan.

"Seringkali, perubahan-perubahan bisa dilakukan di sekolah tanpa membutuhkan dana yang besar," ujar seorang guru SMKN 1 Jambu Kabupaten Semarang Jawa Tengah, Muhammad Ali Sodikin, saat berbicara dalam Workshop Penguatan Kapabilitas Kepala Sekolah SMK di Provinsi Papua dan Papua Barat 2021 melalui Penguatan Ekosistem SMK Melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) dan Pengembangan Kemitraan Strategis dengan Dunia Kerja di Sorong, Papua Barat, Rabu (24/3).

Aplikasi sekolah menyenangkan yang diterapkannya bermula dari saat dirinya mengikuti kegiatan kunjungan yang dilakukannya ke dua sekolah GSM di Sleman, yakni SD Rejodani 2 dan SMPN 2 pada tahun 2019. Walaupun secara jenjang keduanya berada di bawah SMK, tetapi ternyata konsep tersebut tetap bisa diterapkan di sekolahnya. 

Perubahan pertama yang dilakukannya terletak pada area lingkungan pembelajaran, di antaranya pada perubahan ruang kelas, tempat duduk siswa, dan pojok-pojok sekolah. "Saya memulainya tanpa dana. Saya fokus pada hal-hal kecil karena saya yakin pada akhirnya nanti perubahan-perubahan tersebut bisa menjadi besar," ujar Ali.

Diakuinya, perubahan tersebut memang membutuhkan pengawasan guru. "Memang awalnya perlu diawasi agar anak tidak sekadar corat-coret tak beraturan. Namun pada akhirnya terlihat dampaknya ketika para siswa hingga malam masih betah berada di sekolah. Mereka sudah menganggap sekolah sebagai rumah mereka," katanya.

Perubahan kedua adalah pada area school connectedness. Di sini konsepnya adalah sebuah sekolah harus berjejaring dengan lingkungannya. Oleh karena itu ia berinisiatif untuk mengundang para pelaku industri ke sekolah. 

"Hal ini ternyata membuat anak bertambah semangat untuk sekolah. Mereka menjadi tahu terkait peluang usaha dan hal-hal bermanfaat lainnya. 100 persen murid saya bahkan mengaku senang dengan kelas 'Meet CEO'," kata Ali.

Area perubahan ketiga yang dilakukannya adalah penumbuhan karakter siswa. "Hal ini barangkali terdengar biasa namun ada beberapa hal baru yang saya lakukan seperti kegiatan makan besar tiap hari Jumat, circle time sebelum proses pembelajaran dimulai, serta pengenalan pada alam sekitar," katanya.

Hal ini sekaligus membuktikan bahwa definisi sekolah tidak mesti gedung, meja, kursi dan sebagainya. Namun sekolah bisa jadi alam sekitar kita seperti sawah, hutan, sungai dan semacamnya. "Ternyata dengan membawa mereka ke alam konsentrasi mereka justru lebih tinggi dan justru menemukan objek baru untuk dipelajari," katanya.

Selain itu ada bentuk penghargaan seperti bintang kebaikan yang diberikan kepada siswa. Kebaikannya pun tidak semata-mata karena prestasi akademis namun juga hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, datang tidak terlambat, dan murah senyum. "Dampaknya para siswa menjadi kecanduan melakukan kebaikan dan berefek pada hal-hal yang di luar ekspektasi saya. Para siswa menjadi percaya diri dan termotivasi ke sekolah," kata Ali.

Perubahan terakhir adalah praktik pengajaran (pedagogic practice) di mana pembelajaran adalah berbasis program (project based learning) bukan pemberian materi. "Jadi guru tidak fokus pada materi apa yang akan diberikan namun pada aktivitas," katanya.

Dengan demikian, kata Ali, sekolah harus jadi school well-being service yang tidak fokus pada pemberian materi baik teori mapun praktik, tapi menjadi semacam komunitas yang memunculkan karakter-karakter baik di sekolah. 

Salah satu peserta workshop, Kepala SMK YPK Serui Papua, Herlina, meyakini empat konsep tersebut bisa diterapkan di sekolah-sekolah pelosok seperti di Papua dan Papua Barat. Syaratnya, seluruh stakeholder pendidikan harus memiliki satu visi yang sama. "Pola pikirnya harus sama antara kepala sekolah, guru, dinas pendidikan, serta pengawas. Kalau mindset sudah sama maka gerakan ini akan mudah disebarluaskan," kata Herlina.

Dirjen Vokasi Kemendikbud, Wikan Sakarinto, mengungkapkan pendidikan di SMK saat ini arahnya sudah berubah. Jika dulu yang dikuatkan adalah hard skill, maka mulai saat ini yang akan dikuatkan adalah soft competence. "Ke depan pun pemerintah tidak hanya akan membangun SMK saja namun juga perguruan tinggi. Harapannya lulus SMK nanti para siswa bisa melanjutkan studi sehingga menjadi sarjana terapan," ujar Wikan.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


'Kesehatan Mental Seharusnya Jadi Masalah Pendidikan'

Solo Persiapkan Pembukaan Kembali Car Free Day

'Kolaborasi Akar Rumput Diperlukan untuk Majukan Pendidikan'

Tahun Ini 900 SMK akan Ikuti Program Pusat Keunggulan

Kemendikbud: SMK Pusat Keunggulan Antisipasi Bonus Demografi

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark