Rabu 14 Apr 2021 16:22 WIB

Ramadhan, Momen Istimewa untuk Menyucikan Jiwa

Media sosial seharusnya menjadi tempat diskusi secara sehat.

Ilustrasi Ramadhan
Foto: Pixabay
Ilustrasi Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Seluruh umat islam di berbagai belahan dunia sedang berbahagia menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1442 Hijriah. Bulan ini menjadi momen istimewa karena identik dengan menyucikan jiwa, silaturahmi, dan momen untuk saling memaafkan sehingga selalu disambut dengan penuh sukacita dan syukur.  Juga menjadi bulan mulia untuk memperkuat kerukunan dan persatuan sebagai satu bangsa Indonesia.

Milenial intelektual Muslim Habib Husein Ja'far Hadar menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan bulan ampunan dari Allah SWT. Dengan mempersiapkan diri (menyambut Ramadhan) melalui perbaikan-perbaikan diri, kita akan dapat fokus beribadah dan menjadi orang yang pantas mendapatkan ampunan dan rahmat Allah SWT.

"Setelah Ramadan nanti kita akan terlahir kembali sebagai pribadi yang sudah dipenuhi oleh nilai cinta pada siapa pun," tutur Habib Husein di Jakarta, Selasa (13/4).

Terkait era media sosial, dai muda yang berdakwah melalui media sosial ini menuturkan bahwa dalam Islam diajarkan untuk berbicara dalam cara yang baik, dengan kata yang baik, penyampaian yang baik dan bijaksana agar jangan sampai ilmu atau informasi yang benar tidak diterima karena disampaikan dengan cara yang tidak baik.

"Apa pun isu yang ada ditengah kita hendaknya dikelola secara sehat, masyarakat dibiarkan berdiskusi tanpa harus diarahkan dan merasakan ketakutan di media sosial,” ujar pria kelahiran Bondowoso itu.

Lebih lanjut Habib Husein Ja’far juga menyampaikan bahwa  media sosial harusnya menjadi tempat diskusi secara sehat, sehingga dari sana bisa lahir gagasan dan ide konstruktif untuk kemajuan bangsa.

Ia juga menjelaskan, Ramadhan juga merupakan bulan cinta dimana umat Islam diajarkan untuk menahan lapar dan haus untuk sesuatu yang lebih besar. Pada bulan Ramadhan juga bisa belajar untuk merelakan hak kita untuk kemaslahatan yang lebih luas.

"Ada dua semangat Ramadhan yang dapat kita ambil yaitu ramadan sebagai bulan cinta dan menjadi pribadi yang dermawan yang mampu merelakan sesuatu hilang dari diri (hak) kita untuk kemaslahatan yang lebih luas," katanya.

Di momen Ramadhan ini, Habib Husein mengajak kaum milenial untuk belajar memahami Islam yang rahmatan lil alamin. Hal ini terkait dengan serentetan aksi teror di Indonesia yang dilandasi pemahaman agama yang salah. Ia mengaku tidak habis pikir, seorang yang mengaku beragama islam dan memiliki iman, melakukan aksi terorisme seperti bom bunuh diri.

"Siapa saja yang meledakkan rumah ibadah orang lain, maka yang hangus sejatinya iman mereka sendiri. Artinya dalam semua agama, apalagi dalam konteks islam, teror bukan hanya tidak sesuai dengan nilai-nilai islam, tapi meneror nilai-nilai islam itu sendiri," jelas Habib Husein.

Menurutnya, aksi terorisme itu sama saja meneror agamanya sendiri. Apalagi kata islam sendiri artinya kesalamatan dan kedamaian.  Sehingga siapa yang tidak memberikan kesalamatan dan kedamaian, dia tidak layak disebut seorang Muslim. Bahkan yang menyebabkan ketidaknyamanan atau teror, itu musuh Islam.

"Yang terpenting, generasi milenial harus menciptakan ceruk-ceruk, tokoh inspiratif atau guru, agar mereka tidak salah paham. Mereka juga harus tetap semangat belajar sesuatu yang positif. Jangan sampai dimanfaatkan teroris yang mengatasnamakan agama. Dan momen Ramadhan sangat tepat untuk melakukan itu," katanya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement