Pemudik Curi Start Sebelum Berlakunya Larangan Mudik

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Ratna Puspita

Calon penumpang menunggu pemberangkatan bus antarprovinsi di Terminal Bus Jombor, Yogyakarta.
Calon penumpang menunggu pemberangkatan bus antarprovinsi di Terminal Bus Jombor, Yogyakarta. | Foto: Wihdan Hidayat / Republika

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pemudik sudah berdatangan ke Kota Yogyakarta sebelum berlakunya kebijakan larangan mudik pada Kamis (6/5) besok. Salah satu wilayah tujuah pemudik di Kota Yogyakarta, yakni ke Kecamatan Kotagede.

Camat Kotagede Rajwan Taufiq mengatakan jumlah pemudik yang curi start tidak banyak. Pihak kecamatan sudah mencatat belasan pemudik sudah datang ke Kecamatan Kotagede. 

"Sejak tanggal 22 April sudah ada yang mudik. Berdasarkan data yang masuk, sudah ada lima pemudik di Kelurahan Rejowinangun, sekitar lima pemudik juga di Kelurahan Purbayan dan satu orang di Kelurahan Prenggan," kata Rajwan saat ditemui di Kantor Kecamatan Kotagede, Yogyakarta, Rabu (5/5). 

Rajwan mengatakan, tiap pemudik yang datang diharuskan melapor ke RT/RW setempat dan mengisi data di aplikasi Jogja Smart Service (JSS). Hingga saat ini, seluruh pemudik yang datang juga dinilai tertib dalam menjalankan aturan, seperti menjalani isolasi. 

Baca Juga

Di Kota Yogyakarta, pemudik diwajibkan menjalani isolasi selama lima hari bagi yang datang dengan kondisi sehat. Namun, hal yang terindikasi Covid-19 diharuskan menjalani isolasi selama 14 hari dan dibawa ke rumah sakit jika ada gejala Covid-19. 

Menurut Rajwan, tiap pemudik yang datang ke Kotagede menjalani isolasi. Sebagian besarnya, dia mengatakan, datang dalam kondisi sehat dan melengkapi diri dengan surat kelengkapan identitas kesehatan bebas Covid-19. 

"Alhamdulillah tidak ada yang datang dalam kondisi sakit, begitu datang kemudian (pemudik) isolasi mandiri, sehingga bisa penyebaran Covid-19 bisa dicegah. Mungkin kesadaran masyarakat sudah cukup tinggi terkait dengan bahaya Covid-19," jelasnya. 

Sebagian pemudik yang sudah datang, katanya, melakukan isolasi secara mandiri di rumah keluarga yang dituju. Hal ini karena rumah tersebut memadai untuk menjadi tempat isolasi. 

Kendati demikian, shelter-shelter juga disiapkan untuk antisipasi jika nantinya masih ada pemudik yang datang. "Kalau tidak memenuhi (untuk isolasi di rumah), ada balai RW atau balai kampung. Kita menyiapkan shelter sementara," ujar Rajwan. 

Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi meminta pemudik untuk nantinya menjalani pemeriksaan Covid-19 usai isolasi dilakukan. "Pemudik diharapkan menjalani pemeriksaan Covid-19 untuk memastikan diri tidak tertular virus," kata Heroe di Yogyakarta, Selasa (4/5).

Heroe menuturkan, sebagian besar desa/kelurahan sudah menyediakan shelter isolasi bagi pemudik. Posko PPKM mikro yang ada di pintu masuk RT/RW maupun kelurahan juga diminta untuk diaktifkan kembali guna melakukan pemantauan terhadap pemudik yang datang.

"Posko PPKM mikro di wilayah harus mulai mengintensifkan pemantauan dengan lebih ketat terhadap pemudik atau pendatang," ujarnya.

Pemkot Yogyakarta juga memperketat penjagaan selama masa larangan mudik lebaran 2021 ini dengan menurunkan ratusan personel dari Satpol PP Kota Yogyakarta. Personel ini diturunkan untuk melakukan patroli dan penyekatan bagi pemudik. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 

Terkait


Jumlah Penumpang di Terminal Cicaheum Melonjak

Satgas Covid-19: Masih Ada 18,9 Juta yang Nekat Ingin Mudik

Suasana di Pelabuhan Merak Jelang Pelarangan Mudik Lebaran

Doni: Keputusan Larangan Mudik adalah Pilihan Strategis

Antisipasi Pemudik, 15.212 Personel Gabungan Diterjunkan

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark