Senin 31 May 2021 08:55 WIB

SMA Muhi Bekali Siswa Tiga Komponen Keterampilan Utuh

Pendidikan karakter menjadi bagian penting yang diterapkan di SMA Muhi Yogyakarta.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Fernan Rahadi
SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta
Foto: www.smumuhi-yog.sch.id
SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- SMA Muhammadiyah 1 (Muhi) Yogyakarta melaksanakan wisuda 360 peserta didik kelas XII tahun ajaran 2020/2021. 360 peserta didik tersebut terdiri dari 262 orang di Program MIPA dan 98 orang di Program IPS.

Kepala Sekolah SMA Muhi Yogyakarta, Herynugroho mengatakan, kelulusan peserta didik tahun ini mencapai 100 persen walaupun di tengah keterbatasan pandemi Covid-19. Pasalnya, sistem pembelajaran dilakukan secara daring atau online.

"Setahun lebih pembelajaran online, sekolah memberikan apresiasi kepada seluruh peserta didik dengan tetap berjuang keras belajar. Dengan keterbatasan pembelajaran jarak jauh, alhamdulillah semua peserta didik lulus," kata Hery di acara wisuda kelas XII SMA Muhi Yogyakarta, Sabtu (29/5).

Hery menuturkan, pihaknya telah membekali seluruh peserta didik dengan tiga komponen keterampilan utuh. Hal ini untuk memastikan apa yang dipelajari peserta didik sesuai dengan apa yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman yang dinamis. Terlebih, katanya, saat ini manusia tidak hanya berada di era industri 4.0. Namun, sudah mulai masuk ke era industri 5.0.

"Salah satu dukungan yang perlu diberikan kepada anak-anak dan harus diketahui oleh anak-anak soal era industri 4.0 dan 5.0 adalah memastikan apa yang mereka pelajari saat ini adalah apa yang mereka butuhkan untuk menjawab tantangan zaman," ujarnya.

Tiga komponen keterampilan utuh yang dimaksud yakni pendidikan karakter, kemampuan literasi, dan kompetensi. Pendidikan karakter menjadi bagian penting yang diterapkan di SMA Muhi Yogyakarta.

Hery menjelaskan, ada dua pendidikan karakter yang diterapkan yakni karakter moral dan karakter kinerja. Pihaknya berupaya untuk menumbuhkan kedua karakter tersebut dengan seimbang terhadap peserta didik.

"Kita tidak ingin anak-anak jujur tapi pemalas. Kita tidak ingin anak-anak rajin tapi culas. Kita menyeimbangkan dua karakter tersebut dan itu selalu kita laksanakan selama pembelajaran," jelas Hery.

Pada komponen kedua yakni kemampuan literasi, Hery menyebut, juga selalu diintegrasikan di sistem pembelajaran yang ada di SMA Muhi Yogyakarta. Baik itu literasi berhitung, literasi sains, literasi teknologi, literasi finansial, hingga literasi budaya.  

Sementara itu, komponen ketiga yang mencakup kompetensi juga dinilai tidak kalah penting. Menurutnya, melalui komponen ini peserta didik dilatih untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang kompleks dan tidak terstruktur.

Dalam praktiknya, peserta didik membutuhkan kreativitas, berpikir kritis, komunikasi dan kolaborasi untuk memecahkan masalah. Melalui pelatihan tersebut, dapat menumbuhkan kompetensi yang dibutuhkan peserta didik ke depannya sebagai bekal.

"Untuk mengembangkan kompetensi ini kita dorong anak-anak melaksanakan kegiatan kreatif. Insya Allah dengan bekal tersebut anak-anak sudah siap meninggalkan SMA Muhi untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi," katanya.

Hingga saat ini, dari 360 peserta didik yang diwisuda, 49 orang di antaranya sudah diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur SNMPTN. Sebagian besarnya diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM) yakni 27 orang, dan lainnya diterima Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), UPN Veteran Yogyakarta dan Institut Pertanian Bogor (IPB). "SNMPTN kita juga naik dari tahun kemarin yang 31 anak naik menjadi 49 anak tahun ini," katanya menambahkan.

Sementara, juga sudah ada peserta didik yang sudah diterima di beberapa perguruan tinggi swasta. Bahkan, ada yang juga sudah diterima di perguruan tinggi di Amerika Serikat.

"100 persen anak kami ingin melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi. Saat ini masih ada yang mengikuti jalur-jalur lain untuk masuk ke perguruan tinggi baik itu negeri maupun swasta," katanya.

Guru Bimbingan Konseling SMA Muhi Yogyakarta, Edo Lestari mengatakan, pihaknya juga sudah menyiapkan anak-anak untuk memasuki jenjang perguruan tinggi sejak dari kelas 10. Pemberian informasi, pemberian angket dan bimbingan dilakukan kepada peserta didik.

Rata-rata per tahun, 100 persen peserta didik ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi. Sebaran perguruan tinggi yang dipilih oleh peserta didik sebagian besarnya di perguruan tinggi yang ada di Pulau Jawa, terutama di DIY. "Meskipun ada beberapa juga di luar negeri dan juga sudah diterima. Ada juga anak-anak yang berasal dari luar daerah (luar DIY) yang kembali ke daerahnya masing-masing," kata Edo.

Untuk peserta didik yang melanjutkan ke perguruan tinggi luar negeri, Edo menyebut, rata-rata lebih dari lima orang per tahunnya. Sebarannya di perguruan tinggi di Amerika Serikat, Belanda, Turki, Polandia, Prancis, Jerman dan Malaysia.

"Di Muhi juga mendampingi yang ingin lanjut studi ke luar negeri. Kita sosialisasikan informasi perguruan tinggi di luar negeri yang prospeknya bagus dan ada kerja sama. Saat anak melakukan penjajakan dan merasa cocok, maka kita bantu untuk proses pendaftaran," ujarnya.

Acara wisuda kelas XII SMA Muhi 1 Yogyakarta sendiri dilakukan dengan luring (offline) dan daring. Secara luring, acara digelar dengan partisipan yang terbatas dan dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang ketat.

"SMA Muhi mewisuda 360 wisudawan dan wisudawati yang terdiri dari 192 putra dan 168 putri, acara ini berlangsung secara offline dan online," kata Ketua Panitia Wisuda Kelas XII SMA Muhi 1 Yogyakarta, Tri Hari Nurdi.

Bagi peserta yang mengikuti acara secara luring, dilakukan screening terlebih dahulu. Tri menuturkan, screening dilakukan menggunakan Genose. "Sehingga, peserta luring yang masuk semuanya sudah dipastikan sehat," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement