Rabu 07 Jul 2021 18:08 WIB

RSUD Wates Kesulitan Mendapat Relawan Tenaga Medis

RSUD Wates meloloskan 15 relawan, namun enam mundur karena tak mau tangani Covid.

Petugas gabungan menjalankan operasi penyekatan pemudik di Pos Penyekatan Temon, Kulonprogo, Yogyakarta, Senin (10/5). Penyekatan di Temon untuk mengantisipasi pemudik yang masuk Yogyakarta dari arah Purworejo. Setiap mobil dengan plat luar Yogyakarta akan ditepikan dan diperiksa surat bebas Covid-19.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Petugas gabungan menjalankan operasi penyekatan pemudik di Pos Penyekatan Temon, Kulonprogo, Yogyakarta, Senin (10/5). Penyekatan di Temon untuk mengantisipasi pemudik yang masuk Yogyakarta dari arah Purworejo. Setiap mobil dengan plat luar Yogyakarta akan ditepikan dan diperiksa surat bebas Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, KULON PROGO -- Rumah Sakit Umum Daerah Wates Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, kesulitan mendapatkan relawan tenaga medis untuk menangani pasien terkonfirmasi Covid-19, di sisi lain terjadi lonjakan kasus Covid-19 dan banyak tenaga medis yang terinfeksi Covid-19.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Wates Lies Indriyati mengatakan Juli ini, RSUD Wates menerima pendaftaran relawan tenaga medis, yang mendaftar sebanyak 20 orang, namun saat dites yang datang sebanyak 19 orang, dan lolos 15 orang.

Namun, pada saat akan melakukan penandatangan kontrak kerja, dari 15 orang yang lolos seleksi, enam orang mengundurkan diri karena tidak mau ditempatkan dalam penanganan pasien terkonfirmasi Covid-19.

"Pada masa pandemi Covid-19 ini, kami kesulitan mendapat relawan tenaga medis. Tidak semua relawan tenaga medis bersedia ditugaskan untuk menangani pasien terkonfirmasi Covid-19," kata Lies.

Ia mengakui saat ini, RSUD Wates mengalami krisis tenaga medis karena 87 karyawan terkonfirmasi Covid-19, dan 67 karyawan masih menunggu hasil tes usap PCR.

Adapun tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19, yakni dokter sebanyak empat orang, ruang IGD sebanyak 11 orang (perawat dan bidan), Ruang Dahlia 19 orang, Ruang Asoka 19 orang, dan Ruang Gardenia 18 orang.

Bangsal Gardenia, 18 perawatnya terpapar Covid-19, sehingga pihaknya harus melakukan mobilisasi perawat dari bangsal lain untuk penanganan di bangsal tersebut. Begitu juga dengan IGD, dan bangsal lainnya.

"Kami berusaha menambah sumber daya manusia, sehingga kami harus memobilisasi tenaga medis internal," katanya.

Lies juga mengaku kewalahan penanganan pasien terkonfirmasi Covid-19 di IGD, karena tiga dokter terkonfirmasi Covid-19. Untuk melayani pasien di IGD yang stagnan seperti itu, potensi terpapar Covid-19 tinggi sekali.

"Kami mulai membuka pendaftaran dokter umumnya, saat ini sudah ada penambahan satu dokter umum. Semoga bisa bertambah lagi," harapnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement