Senin 30 Aug 2021 13:15 WIB

Jatim Mulai Pembelajaran Tatap Muka

Salah satu sekolah yang mulai menggelar PTM terbatas adalah SMK Negeri 7 Surabaya.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Esthi Maharani
Pelajar berjalan usai disuntikkan vaksin COVID-19
Foto: Antara/Abriawan Abhe
Pelajar berjalan usai disuntikkan vaksin COVID-19

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas bertahap untuk jenjang SMA, SMK dan SLB di 20 kabupaten/ kota di Jatim yang menerapkan PPKM level 2 dan 3 dimulai Senin (30/8). Salah satu sekolah yang mulai menggelar PTM terbatas adalah SMK Negeri 7 Surabaya.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengecek langsung pelaksanaan PTM di SMKN 7 Surabaya. Pemgecekkan yang dilakukan meliputi kapasitas kelas 50 persen, guru yang telah divaksin, 4 jam pelajaran setiap yang rata-sata 30 menit untuk satu jam pelajaran, kesiapan Satgas Covid-19 di tingkat sekolah, serta izin dari orang tua siswa.

"Meski dimulainya PTM tetap pola pembelajaran  kita masih hybrid. Jadi jika ada kebutuhan yang perlu disupport dan dilengkapi, bisa dimusyawarahkan. Terlebih kita masih melakukan ini secara bertahap, jadi sambil mengukur kapasitas kita sendiri," ujar Khofifah.

Khofifah mengingatkan sekolah yang menggelar PTM untuk selalu mentaati peraturan dari pemerintah, yang teknisnya bisa diputuskan oleh masing-masing daerah. Apakah akan bergantian harinya untuk setiap kelas, atau dibuat shift per hari.

"Yang penting hal-hal dasar seperti pengadaan tempat cuci tangan, bermasker, dan social distancing harus dilakukan," kata Khofifah.

Khofifah mengatakan betapa pentingnya PTM untuk siswa-siswi sekolah, umatanya sekolah kejuruan. Dimana selama pandemi berlangsung, mereka terpaksa  belajar secara daring tanpa praktik langsung. Padahap, dunia usaha dan dunia kerja standartnya semakin tinggi.

"Pemprov memprioritaskan SMK-SMA kelas 12 untuk PTM ini.  Tetapi PTM terbatas bertahap ini dapat diatur untuk semua kelas. Saya khawatir jika  mereka hanya mengandalkan pembelajaran daring dan tidak praktik langsung, skillnya jadi tidak terasah dan mereka bisa  kehilangan kepercayaan diri," ujarnya.

Khofifah mengakui, salah satu kendala yang masih dihadapi masing-masing kabupaten/ kota untuk menggelar PTM adalah vaksinasi guru  yang belum 100 persen terlaksana. Saat ini tercatat baru 88,48 persen guru yang menerima vaksin dosis pertama, dan 77% yang menerima vaksin dosis kedua.

"Saya sudah berkoordinasi dengan bupati/ wali kota juga dinas kesehatan untuk memfokuskan vaksin di sekolah-sekolah. Amannya, anak-anak dan guru divaksin  agar kita lebih tenang melaksanakan PTM," kata dia.

Ada beberapa daerah yang menggelar PTM di Jatim. Di antaramya di Sampang, Pasuruan, Sumenep, Tuban, Situbondo, Bondowoso, Nganjuk, Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, Bangkalan, dan Lamongan yang telah menyiapkan sekolahnya dari jenjang SD hingga SMA.

Sedangkan Pacitan, Jember, Bojonegoro, Sidoarjo, Gresik, dan Kota Surabaya baru menyiapkan SMA dan SMK. Adapun untuk  jenjang di bawahnya baru akan dirapatkan. Selain itu, Probolinggo dan Kabuoaten Pasuruan baru menyanggupi PTM untuk SMA dan SMK, dan akan menerapkan sistem yang sama di jenjang lainnya per 1 September 2021.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement