Kamis 02 Sep 2021 19:02 WIB

Tekan Angka Stunting, Putri Keraton: Semua Harus Kerja Sama

Keadaan stunting di DIY bervariasi tergantung kondisi dari kabupaten/kota.

ilustrasi Stunting
Foto: Republika/Mardiah
ilustrasi Stunting

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Angka stunting di DIY pada tahun 2020 lalu sebesar 19,8 persen lebih baik dari angka nasional yang mencapai 27 persen. Meskipun masih di bawah angka WHO, namun organisasi kesehatan dunia itu menetapkan bahwa angka melebihi 20 persen termasuk dalam situasi yang perlu ditangani. 

Keadaan stunting di DIY bervariasi tergantung kondisi dari kabupaten/kota.  Tercatat data prevalensi balita stunting di Kota Yogyakarta sebesar 11,3 persen di tahun 2020. 

Kemudian di Kabupaten Sleman sebesar 8,38 persen di tahun 2019, sedangkan di Kabupaten Gunungkidul mencapai 17,44 persen di 2020.  Sementara di Kulonprogo angka stunting berada di 12,57 persen pada tahun 2020. Terakhir, di Bantul pada awal 2021 tercatat sebesar 10,6 persen.

"Untuk mencegah stunting perlu kerja sama semua pihak, seperti halnya ketika kita bermain gamelan," kata Putri Keraton Yogyakarta GKR Bendara di sela peluncuran Program Isi Piringku Berbasis Nilai Budaya Luhur secara daring di Yogyakarta, Kamis (2/9).

Dalam program yang diinisiasi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga DIY, Yayasan Pendidikan Integral Satu Bumi (One Earth) dan Danone Indonesia itu, GKR Bendara mengatakan dalam bermain gamelan, tak bisa satu pemain alat berdiri sendiri untuk menciptakan harmoni. Satu pemain  dengan lainnya harus bekerja sama serta bergotong royong sebagai kuncinya. 

"Kita pun perlu menggali nilai budaya adiluhur dan mengemasnya kembali sebagai materi edukasi melalui PAUD sebagai lapisan paling mendasar untuk mencegah stunting. Anak-anak kita adalah Generasi Emas yang kelak akan menjadi pondasi negara," jelas GKR Bendara yang juga menjabat Penghageng KHP Nitya Budaya Keraton Yogyakarta

Program ini bertujuan memberikan pengetahuan kepada seluruh guru PAUD diYogyakarta akan pentingnya porsi asupan gizi yang tepat untuk anak usia 4-6 tahun melalui panduan Isi Piringku. 

Program Isi Piringku yang dikembangkan Danone Indonesia menggandeng beberapa mitra pelaksana di daerah. Dimulai sejak 2017 bersama Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB mengembangkan modul panduan edukasi gizi yang kemudian dapat digunakan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)/ 4-6 tahun. Saat ini Program Isi Piringku telah menjangkau 74.355 anak dan 6.299 guru di 2.707 PAUD yang berlokasi di 22 Kabupaten/Kota di 8 provinsi mulai Sumatera, Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara.

Vice President General Secretary Danone Indonesia Vera Galuh Sugijanto mengatakan bahwa sebagai perusahaan yang berkomitmen membawa kesehatan melalui makanan dan minuman yang sehat ke sebanyak mungkin orang dengan misi One Planet One Health.

"Danone Indonesia terus mendukung kesehatan dan pertumbuhan anak Indonesia dengan menghadirkan produk bernutrisi, program berkelanjutan, hingga kerjasama multipihak untuk mendukung pemenuhan gizi dan kesehatan anak-anak Indonesia. Secara prinsip, tidak boleh ada anak Indonesia yang tertinggal dari sisi gizi dan pendidikan, supaya Indonesia bisa maju dan lebih baik kedepan," kata Vera.

Wakil Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Yogyakarta Suhirman juga mengapresiasi Danone Indonesia dengan Program Isi Piringku yang dilakukan secara daring dan bertahap. "Metode ini sesuai dengan Blended Learning yang diterapkan oleh pemerintah, selain proses tatap muka yang tertunda, metode tatap layar ini akan efektif sebagai pembelajaran selama masa pandemi," kata Suhirman.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement