Munculnya Klaster PTM Disebut karena Abai Sains Epidemolog

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Dwi Murdaningsih

Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada pelajar di Taman Hutan Kota Joyoboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (18/9/2021). Pemerintah daerah setempat berupaya mempercepat vaksinasi COVID-19 melalui vaksinasi massal kepada pelajar usia 12 tahun ke atas seiring telah dimulainya Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di sejumlah sekolah.
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada pelajar di Taman Hutan Kota Joyoboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (18/9/2021). Pemerintah daerah setempat berupaya mempercepat vaksinasi COVID-19 melalui vaksinasi massal kepada pelajar usia 12 tahun ke atas seiring telah dimulainya Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di sejumlah sekolah. | Foto: Antara/Prasetia Fauzani

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur,  Prof. Akhmad Muzakki menanggapi data Kemendikbud terkait kemunculan klaster Covid-19 dari pembelajaran tatap muka (PTM). Klaster Covid-19 terbanyak muncul pada sekolah jenjang SD dan SMP. Muzakki menguatkan kebenaran data Kemendikbud tersebut, sesuai apa yang diketemukan timnya di lapangan.

"Dari data Kemdikbud ini kan paling banyak klaster sekolah SD-SMP ya, ini memang benar.  Karena temuan kami di lapangan seperti itu," ujar Muzakki, Jumat (24/9).  

 

Muzakki berpendapat, kabupaten/ kota sebenarnya belum siap melaksanakan PTM secara terbatas. Malah menurutnya banyak temuan yang mengabaikan sains epidemologis Covid-19. Padahal, kata dia, sains epidemologis harusnya dijadikan pemerintah kabupaten/ kota sebagai basis pengambilan kebijakan soal PTM.  

Baca Juga

 

"Yang saya temukan fakta di lapangan praktik PTM di kabupaten/ kota (di Jatim) SD-SMP mengabaikan sains epidemologi.  Seakan-akan pandemi selesai," ujarnya.

 

Ia mencontohkan di salah satu sekolah di Jatim yang masuk sekolah jam 7 pagi hingga setengah 5 sore. Menurutnya itu sangat mengkhawatirkan sekali. Apalagi untuk anak SD dan SMP yang masih terhambat proses vaksinasi Covid-19 akibat keterbatasan jumlah vaksin. 

 

Muzakki kemudian meminta kabupaten/ kota lebih tegas dalam mengambil kebijakan terkait PTM terbatas. Menurutnya, dibutuhkan evaluasi yang serius dari ppemerintah kabupaten/ kota demi menghindari lebih banyaknya klaster Covid-19 dari PTM.

 

"Apalagi SD-SMP ini masih banyak yang belum vaksin. Dan untuk PTM terbatas saya rasa jenjang ini sangat belum siap. Jangan buru-buru melakukan PTM terbatas.  Yang wajib justru dilakukan vaksinasi massif," ujarnya.

 

 

Terkait


Aneka Hadiah Disiapkan dalam 10 Ribu Vaksinasi di Yogyakarta

Kasus Covid Turun, Legislator Apresiasi Kinerja Pemerintah

Kekebalan Vaksin Covid-19 Berkurang Seiring Waktu, Artinya?

Covid-19 Berkaitan dengan Penurunan Berat-Malanutrisi?

Polri dan PB SEMMI Gelar Vaksinasi Merdeka di 13 Titik

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

[email protected]

Ikuti

× Image
Light Dark