Selasa 12 Oct 2021 15:18 WIB

Potensi EBT Indonesia Jadi Magnet bagi Dunia Internasional

Ditargetkan pada 2025 pemanfaatan EBT di Indonesia bisa mencapai 23 persen.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Yusuf Assidiq
Petani memasang panel tenaga surya di kawasan pertanian Le Marsi di Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Energi terbarukan dimanfaatkan petani untuk memenuhi kebutuhan penerangan saat malam hari dan mengisi daya alat-alat pertanian dan ruang pengemasan sayuran.
Foto: Iggoy el Fitra/ANTARA
Petani memasang panel tenaga surya di kawasan pertanian Le Marsi di Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Energi terbarukan dimanfaatkan petani untuk memenuhi kebutuhan penerangan saat malam hari dan mengisi daya alat-alat pertanian dan ruang pengemasan sayuran.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Penerapan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia sudah tidak bisa dihindarkan. Apalagi setelah adanya perjanjian internasional untuk mengurangi emisi karbon di Tanah Air.

Ditargetkan pada 2025 mendatang pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia bisa mencapai 23 persen.  "Potensi EBT di Indonesia menjadi magnet tersendiri bagi dunia internasional, karena cukup besar," kata Direktur SDM PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB), Karyawan Aji, dalam webinar yang digelar Selasa (12/10).

Adapun program pengembangan EBT yang dilakukan PJB melalui beberapa skema. Seperti disampaikan Direktur Pengembangan dan Niaga PT PJB, Iwan Purwana, masing-masing EBT Skema Kemitraan, EBT Kepulauan Tersebar, PLTS untuk Pemakaian Sendiri (PS), hingga elektrifikasi dengan EBT.

"PJB juga mempunyai skema PLT Hybrid, yakni tenaga campuran, terdiri dari diesel, tenaga surya, dan baterai," ujarnya.

Pakar bioenergy engineering dan agricultural engineering dari Universitas Brawijaya, Malang, Bambang Susilo mengatakan, potensi EBT di Indonesia cukup besar, karena memiliki sumber daya alam yang melimpah.

Potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia di antaranya aliran air, tanaga surya atau matahari, biomassa, bahan bakar nabati, biogas, suhu kedalaman laut, angin, ombak laut, dan panas bumi (geothermal).

"Indonesia akan menjadi negara imut-imut dan dibutuhkan karena potensinya besar. Seperti musim yang menghasilkan energi, yakni panas dan hujan," ujarnya.

Ia mengatakan, secara umum energi baru adalah energi yang dihasilkan oleh teknologi baru, dan energi terbarukan adalah energi yang dalam waktu pendek bisa diperbarui. Kemudian dihasilkan dari sumber daya energi yang secara alamiah tidak akan habis dan dapat berkelanjutan jika dikelola dengan baik.

"Oleh karena itu, perlu kiranya didorong terus pengembangan EBT, sehingga mampu menjadikan Indonesia mandiri dengan sumber daya alamnya," kata Bambang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement