Selasa 02 Nov 2021 23:31 WIB

Mahasiswa UNY Susun Pembelajaran Inovatif

Selama pandemi peserta didik merasa pembelajaran yang terjadi kurang aktif.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Fakhruddin
Mahasiswa UNY Susun Pembelajaran Inovatif. Kampus UNY.
Foto: Dokumen.
Mahasiswa UNY Susun Pembelajaran Inovatif. Kampus UNY.

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN -- Kemajuan abad 21 dihadapkan tantangan luar biasa semua bidang, tidak kecuali pendidikan. Butuh guru-guru terbaik yang mampu pahami dinamika kelas melalui keterampilan dasar mengajar dan variasi pemanfaatan teknologi.

Sehingga, dapat mempersiapkan peserta didik yang mampu hadapi berbagai tantangan global. Di sisi lain, pandemi covid yang menyebabkan sekolah harus dilaksanakan dari rumah memunculkan permasalahan baru yaitu loss learning.

Kegiatan pembelajaran selama pandemi covid lebih sering menggunakan media video pembelajaran yang dikirimkan melalui grup WhatsApp. Hal itu didapatkan dari wawancara dan observasi kepada peserta didik SD Muhammadiyah Bantul.

Peserta didik merasa pembelajaran yang terjadi kurang aktif, efektif dan menyenangkan. Di sisi lain, pembelajaran sangat membutuhkan pembelajaran secara langsung dan joyful learning yang terintegrasi dalam teknologi digital.

Itu mendorong sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyusun alternatif pembelajaran inovatif Belajar Asyik Mahir Teknologi. Ada Risha Setyawati, Nur Raisah, Fenia Anggita Kartikasari dan Muhammad Khusyasy Najib Dzaluli.

Risha menerangkan, mereka membuat media pembelajaran kelas V di SD Muhammadiyah Bantul. Dengan kegiatan seperti mengamati video, alat peraga organ pernapasan dan menyimpulkan kegiatan pembelajaran lewat poster.

Konsep mahir teknologi karena kegiatan pembelajaran memanfaatkan media Zoom, Quizizz, Mentimeter, Google Slide dan WhatsApp. Memilih tema udara bersih bagi kesehatan dan subtema menjaga kesehatan organ pernapasan.

"Hal ini karena pandemi covid yang sedang melanda dunia mengharuskan peserta didik semakin sadar terhadap pentingnya memelihara organ pernapasan manusia," kata Risha.

Nur menambahkan, rangkaian pembelajaran yang disusun dibuat semenarik mungkin dan bervariatif. Sehingga, mampu memfasilitasi keanekaragaman gaya-gaya belajar peserta didik, baik itu secara visual, auditori maupun kinestetik.

Visual terlihat saat peserta didik belajar melalui e-modul yang dikemas beraneka warna. Selain itu, dilengkapi gambar pendukung yang menarik, dan auditori ketika peserta didik mendengarkan penjelasan melalui media video animasi.

"Kinestetik ketika peserta didik membuat sendiri alat peraga organ pernapasan menggunakan bahan-bahan sederhana," ujar Nur.

Model pembelajaran yang dipakai problem based learning, mendorong peserta mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, kolaborasi dan komunikasi. Kegiatan pembelajaran diintegrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Pembelajaran memanfaatkan teknologi seperti penggunaan WhatsApp sebagai media koordinasi. Zoom agar dapat berinteraksi virtual, asesmen berupa Quizizz, Google Slide sebagai LKPD daring dan Flipping Book untuk bahan ajar e-modul.

Alat peraga yang disajikan sebagai media pembelajaran bagi siswa dibuat dari bahan sederhana yaitu sedotan, balon dan botol minuman. Selain alat peraga, media pembelajaran lain yang digunakan merupakan video animasi dan poster. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement