Antisipasi Bencana, Sleman Siapkan EWS di 16 Titik

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Fernan Rahadi

Early Warning System (EWS) ilustrasi
Early Warning System (EWS) ilustrasi | Foto: Dok UNY

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Sleman turut menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang sudah disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Karenanya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman melakukan sejumlah mitigasi.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan mengatakan, Sleman kini menghadapi ancaman bencana multi-hazard karena ada aktivitas Merapi yang masih cukup aktif. Mulai dari guguran lava pijar, awan panas sampai banjir lahar ke sekitar Merapi.

Apalagi, kubah lava Merapi yang ada di sisi barat daya sudah mencapai 1,6 juta meter kubik dan di sisi tenggara sudah mencapai 2,8 meter kubik. Sedangkan, Merapi memang merupakan salah satu daya tarik wisatawan yang ada di Sleman.

Hal itu ditambah potensi kemunculan La Nina yang diperkirakan memunculkan efek kenaikan curah hujan 20-60 persen. Karenanya, Makwan menekankan, walaupun tidak perlu khawatir, semua elemen yang ada di Sleman harus tingkatkan kesiapsiagaan.

Untuk itu, meskipun status PPKM untuk Sleman turun ke level II, pelaku wisata meningkatkan kewaspadaan. Salah satunya pengelola jip-jip wisata yang biasanya menghadirkan atraksi di sungai-sungai, harus mampu meningkatkan kesiapsiagaan.

"Kalau hujan jangan ambil resiko, seperti di Kali Kuning, kalau hujan jangan coba-coba. Saya berharap operator-operator jip wisata meskipun itu salah satu daya tarik tapi beresiko tinggi," kata Makwan di Teras Merapi, Selasa (2/11).

Terkait itu, Makwan mengungkapkan, BPBD Sleman sudah mengaktifkan early warning system (EWS), termasuk untuk mendeteksi kenaikan curah hujan. Selain itu, EWS ditempatkan di titik-titik yang berpotensi banjir, longsor dan angin kencang.

"Ada 16 titik yang kita siapkan, termasuk terkait potensi longsor di Prambanan yang kita pasang di empat titik," ujar Makwan.

Selain itu, Sleman masih harus menghadapi kemungkinan terjadinya gelombang tiga Covid-19. Terakhir, Makwan mengungkapkan, kasus aktif di Sleman masih menimpa 220 orang dengan 56 pasien isolasi di RS, 10 pasien di isoter dan sisanya isoman.

Ia mengingatkan, orang-orang yang sedang isolasi mandiri di kediaman masing-masing itu jangan sampai malah mengunjungi tempat-tempat wisata yang buka. Sebab, Makwan menekankan, mereka bisa mengkontaminasi tidak cuma wisatawan tapi pelaku wisata.

Makwan berharap, masyarakat Sleman terus menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Termasuk, komitmen dari pengelola-pengelola destinasi wisata yang harus terus dikuatkan, sehingga aktivitas wisata dapat berjalan walau masih pandemi.

Terkait Covid-19, ia meminta masyarakat Sleman tidak sepele karena memang pandemi masih berlangsung. Terlebih, Makwan mengingatkan, sepanjang Oktober 2021 saja, di Sleman ada dua warga isoman dan 18 warga di faskes yang meninggal dunia. "Jangan sepelekan Covid-19, walaupun tidak terlihat, harus kita kendalikan," kata Makwan. 

 

Terkait


Ketua DPRD: DKI Belum Siap Hadapi Cuaca Ekstrem

Pantau Potensi Lahar Dingin Merapi, BPBD Terjunkan Personel

Musim Hujan, EWS Dipastikan Sudah Berfungsi dengan Baik

Masyarakat Diminta Waspadai Dampak La Nina

Lawan La Nina, Khofifah: Yuk Gotong Royong Bersihkan Sampah

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark