Rabu 17 Nov 2021 14:16 WIB

BPBD Solo Petakan 15 Kelurahan Rawan Bencana

Ancaman paling besar di Solo itu genangan air atau banjir.

Rep: Binti Sholikah/ Red: Yusuf Assidiq
Warga berjalan melintasi banjir yang menggenangi permukiman di Kampung Sewu, Jebres, Solo, Jawa Tengah, Senin (14/12/2020). Puluhan keluarga yang tinggal di sekitar bantaran sungai setempat terdampak luapan air Sungai Bengawan Solo.
Foto: ANTARA/Maulana Surya
Warga berjalan melintasi banjir yang menggenangi permukiman di Kampung Sewu, Jebres, Solo, Jawa Tengah, Senin (14/12/2020). Puluhan keluarga yang tinggal di sekitar bantaran sungai setempat terdampak luapan air Sungai Bengawan Solo.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Solo, Jawa Tengah, memetakan ada 15 kelurahan yang menjadi daerah rawan bencana. Pemerintah Kota (Pemkot) Solo telah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) serta sarana prasarana untuk mitigasi dan penanggulangan bencana.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Solo, Nico Agus Putranto mengatakan, potensi bencana di Solo berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masih dalam kategori rendah. Namun, ketika cuaca sedang ekstrem, potensi bencana meningkat menjadi kategori sedang dan tidak pernah sampai kategori tinggi.

"Kalau ancaman paling besar di Solo itu genangan air atau banjir. Kemudian ada tanah longsor juga hanya di titik-titik tertentu," kata Nico kepada wartawan seusai Apel Kesiapsiagaan Bencana di halaman Balai Kota Solo, Rabu (17/11).

Ia mengungkapkan, BPBD sudah memetakan ada 15 wilayah yang rawan bencana. Dari titik-titik itu, masih diklasifikasikan yang paling rawan bencana yakni di Kecamatan Pasar Kliwon yang bersinggungan langsung dengan Sungai Bengawan Solo dan sungai kota.

"Pasar Kliwon itu kalau kami petakan ada lima titik. Kemarin yang terjadi itu genangan air 20-50 sentimeter masuk ke rumah. Tapi memang durasinya alhamdulillah tidak lama, hanya setengah jam sudah surut lagi," jelasnya.

Selain banjir, bencana yang terjadi berupa tanah longsor. Beberapa waktu lalu, di Kelurahan Mojosongo terjadi longsor pada talut akibat kikisan air sungai. Hal itu menyebabkan fondasi tiga rumah warga yang berada di samping talut ikut tergerus.

"Yang paling kami perhatikan ini memang potensi banjir dan angin juga kemarin klasifikasinya di Solo tergolong rendah dan sedang," imbuh Nico.

Dalam kegiatan itu, sejumlah sarana prasarana penanganan bencana juga ikut diperlihatkan. Di antaranya, perahu karet, pompa air, alat komunikasi, peralatan tali temali untuk evakuasi, alat pemadam api, mesin gergaji, serta armada angkutan. Selain itu, juga terdapat alat pelindung diri individu seperti pelampung, helm, dan sepatu boot.

Sementara itu, Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka menegaskan, persiapan untuk kesiapsiagaan bencana memang harus dilakukan secara lebih. Menurutnya, hal paling penting semua pemangku kepentingan harus saling berkoordinasi.

"Ini kan tadi alat-alatnya sudah cukup lengkap semua. Tinggal nanti seberapa cepat merespons bencana dan seberapa cepat koordinasi dengan stakeholder," terang Gibran.

Ia mengaku, sudah memetakan titik-titik rawan banjir. Titik-titik genangan air di Kota Solo antara lain di Pasar Gede, viaduk Gilingan, depan Universitas Slamet Riyadi (Unisri), Jalan Sumpah Pemuda, Jalan Adi Sucipto terutama depan Gedung Warastratama, Jalan Kolonel Sugiyono sekitar Pasar Nusukan, serta Jalan Urip Sumoharjo.

Selain itu, titik-titik pohon tumbang juga sudah dikoordinasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Selanjutnya, tempat komersial seperti mal dan hotel yang belum memiliki alat pemadam api ringan (APAR) akan diminta melengkapi.

"Pokoknya kami siap-siap. Namanya titik banjir memang sudah lama, menahun dan tempatnya itu-itu saja. Makanya kami antisipasi dengan peralatan-peralatan yang kami punya," tandasnya.

Gibran berharap, seluruh pemangku kepentingan dapat meningkatkan koordinasi dan mempercepat komunikasi dalam menangani kebencanaan serta saling menjaga kesiapsiagaan. Termasuk memastikan peralatan pendukung selalu siap setiap saat.

Selain itu, diperlukan respons cepat antara pemerintah, perguruan tinggi, SAR, relawan, media massa dan masyarakat dalam memberikan informasi seputar kejadian bencana. Sehingga, penanggulangannya berjalan cepat, tepat efisien, dan efektif.

"Saya berharap upaya mitigasi bencana ini dapat dimaksimalkan untuk mengajak warga Solo agar lebih peduli terhadap lingkungan dan usaha penanggulangan bencana," tegasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement