Senin 22 Nov 2021 05:29 WIB

Epidemiolog UGM: 80 Persen Penduduk Sudah Terinfeksi Delta

Imunitas alamiah yang terbentuk kini tidak bisa diandalkan ketika muncul strain baru.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Fernan Rahadi
Virus Covid-19 (ilustrasi)
Foto: Pixabay
Virus Covid-19 (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Epidemiolog UGM, Citra Indriani mengungkapkan besar kemungkinan sudah 80 persen penduduk Indonesia sudah terinfeksi oleh varian Delta. Sehingga, jumlah kasus positif Covid-19 mengalami penurunan secara drastis.

Sebab, terbentuknya imunitas kelompok secara alamiah, dan tubuh miliki antibodi spesifik untuk strain virus tertentu. Percepatan program vaksinasi yang gencar dilakukan diharapkan meminimalisir tingkat keparahan bila terinfeksi kembali.

"Infeksi covid lebih dari 50 persen adalah asimtomatis, mungkin 80 persen penduduk kita telah terinfeksi Delta," kata Citra, Sabtu (21/11).

Kalau sudah terinfeksi sedemikian banyak, bukan berarti Indonesia memiliki imunitas kelompok dan tidak ada ancaman gelombang ketiga. Sebab, sebagian besar infeksi natural membentuk antibodi yang spesifik untuk virus atau strain virus yang menginfeksi.

"Artinya, tidak untuk strain yang lain. Sehingga, imunitas alamiah yang terbentuk saat ini mungkin tidak bisa kita andalkan bila kita kedatangan strain yang baru," katanya.

Selain itu, 88 juta sudah mendapat dosis vaksin lengkap. Ia menilai, vaksinasi turut memiliki peran besar untuk mencegah bentuk parah sakit karena meskipun sudah divaksin sekalipun masih memiliki potensi terinfeksi dan menjadi sakit.

Melihat beberapa rekaman data yang terinfeksi pada gelombang Januari, lalu kembali terinfeksi Delta pada Juni-Juli, dan kasus-kasus meninggal memiliki riwayat belum mendapatkan vaksinasi. Harapannya tentu percepatan vaksinasi.

Kemudian, sisir wilayah untuk vaksinasi, terutama lansia bisa berperan untuk mitigasi bentuk parah infeksi SARS-COV 2. Jika gelombang tiga terjadi, sistem kesehatan tidak lagi hadapi kasus-kasus berat yang jumlahnya ribuan tiap hari.

Meski angka kasus positif baru setiap harinya rata-rata kurang dari 400 kasus, kebijakan pembatasan mobilitas dengan penerapan PPKM level tiga jelang Nataru sudah tepat. Namun, kenaikan mobilitas masyarakat kini tidak bisa dihindari.

"Kenaikan mobilitas sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kalau kita lihat dari 1,5 tahun pandemi, gelombang kenaikan selalu diawali dengan peningkatan mobilitas, saat Natal-Tahun Baru dan pasca Lebaran," ujar Citra.

Pembatasan mobilitas melalui penerapan PPKM level tiga jelang Nataru bagian pengendalian agar tidak terjadi penularan secara masif. Meskipun dibatasi, mobilitas tetap terjadi tapi tidak semasif bila tidak dilakukan pembatasan.

Pembatasan kerumunan dan mobilitas sudah sesuai pembelajaran sebelumnya. Yaitu, gelombang diawali pada periode Nataru dan Lebaran, apalagi di negara-negara tetangga saat ini sedang mengalami gelombang Delta atau varian AY.4.2.

Menurut Citra, pembatasan mobilitas dan penerapan protokol kesehatan dalam kegiatan masyarakat terus dilakukan. Sampai seluruh penduduk dunia betul-betul aman dari infeksi Covid-19 dan vaksinasi sudah mencapai target di semua negara.

Sebab, ia menekankan, kita akan menghadapi kasus Covid-19 selama angka vaksinasi dunia belum capai target. Sehingga, yang diperlukan saat ini mengubah pola pikir dan menerima kita akan akan hidup berdampingan dengan pembatasan mobilitas ini.

"Naik level turun level PPKM harus dijalani dan beradaptasi dengan situasi ini karena tidak ada kepastian untuk menjawab sampai kapan," kata Citra.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement