Jumat 03 Dec 2021 21:33 WIB

Ubah Limbah Jeans Jadi Karya Unik

Sustainable fashion sebenarnya tidak harus bahan jeans.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Muhammad Fakhruddin
Desainer Feby Ayusta mendesain ulang sampah pakaian atau biasa disebut dengan gaya sustainable fashion di Studio Memossa, Malang, Jawa Timur, Rabu (1/12/2021). Rancangan busana karya Feby disukai konsumen mancanegara terutama di Jepang dan Korea Selatan karena ramah lingkungan serta memakai sampah fesyen berbahan dril atau jeans yang dikenal kuat.
Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Desainer Feby Ayusta mendesain ulang sampah pakaian atau biasa disebut dengan gaya sustainable fashion di Studio Memossa, Malang, Jawa Timur, Rabu (1/12/2021). Rancangan busana karya Feby disukai konsumen mancanegara terutama di Jepang dan Korea Selatan karena ramah lingkungan serta memakai sampah fesyen berbahan dril atau jeans yang dikenal kuat.

REPUBLIKA.CO.ID,MALANG --  Pandemi Covid-19 di Indonesia telah membuat dunia usaha terpuruk sejak 2020. Hal ini tak terkecuali turut dirasakan Feby Ayusta (39 tahun) selaku desainer di dunia fashion Kota Malang.

Feby telah lama menggeluti usaha fashion di Kota Malang dengan merek Memossa. Namun usaha ini turut terdampak saat pandemi Covid-19 mulai melanda Kota Malang. Dia tak mendapatkan pemasukan sama sekali sehingga dia berusaha mencari jalan lain.

Feby mulai mencari solusi yang salah satunya mengikuti sejumlah kegiatan pelatihan. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk membuat sustainable fashion. "Setelah itu mulai berpikir untuk membuat sustainable fashion dari bahan limbah jeans atau yang sudah tidak terpakai," kata Feby kepada wartawan di Kota Malang, beberapa waktu lalu.

Menurut Feby, sustainable fashion sebenarnya tidak harus bahan jeans. Beberapa desainer lain ada yang memilih bahan katun dan sebagainya. Feby sengaja memilih jeans karena bahan tersebut banyak yang tidak terpakai. 

Setelah mendapatkan ide tersebut, perempuan berhijab ini langsung berkreasi dengan membuat desain outer. Bahan utama yang dipakai berupa limbah celana dan bahan jeans lainnya. Bahan-bahan tersebut dibuka jahitannya sehingga membentuk lembaran kain.

Selanjutnya, lembaran-lembaran kain mulai dibentuk seusai keinginan. Dengan kata lain, dibentuk dengan desain menarik lalu ditambah bahan lainnya agar hasilnya lebih bagus. Menurut Feby, konsep sustainable fashion pada dasarnya untuk memperpanjang masa pakai sebuah pakaian termasuk jeans atau bahan yang sudah tidak terpakai.

Saat ini, Feby setidaknya sudah mampu menghasilkan 12 desain berbeda dari limbah jeans. Puluhan desain ini berhasil diproduksi selama kurang lebih satu tahun. Sejumlah desainnya juga sudah ada yang ditampilan pada ajang fashion show di Indonesia.

Menurut Feby, sebagian besar desainnya terinspirasi dari gaya fashion Jepang. Meskipun demikian, dia tidak akan menolak apabila terdapat pembeli yang memesan desain lain sesuai keinginan. "Tapi biayanya lebih mahal karena bahannya menyesuaikan dengan kebutuhan desain yang diinginkan," ucapnya.

 

Berbeda dengan usaha fashion lainnya, harga pakaian dengan konsep sustainable fashion justru lebih mahal. Pasalnya, bahan dan proses penggarapannya berbeda dan tidak mudah. Limbah-limbah jeans harus dicuci dan dibersihkan dahulu dalam beberapa tahapan untuk kemudian dijadikan baju baru.

Feby membanderol harga usahanya paling murah sekitar Rp 385 ribu. Jika ada yang memesan desain khusus, maka biayanya bisa mencapai Rp 1 jutaan. "Beberapa produk saya juga sudah pernah dikirimkan ke Jepang maupun Korea Selatan," jelasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement