Antisipasi Omikron, Dinkes Yogya Perkuat Sistem Surveilans dan Percepat Vaksinasi

Rep: My41/ Red: Fernan Rahadi

Focus Group Discussion Antisipasi Penyebaran Omikron di Yogyakarta melalui siaran langsung pada kanal Youtube Republika Official, Selasa (21/12).
Focus Group Discussion Antisipasi Penyebaran Omikron di Yogyakarta melalui siaran langsung pada kanal Youtube Republika Official, Selasa (21/12). | Foto: Tangkapan layar Zoom

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta melakukan pencegahan primer dalam mengantisipasi penyebaran Omikron di Yogyakarta dengan mengoptimalkan kewaspadaan mobilitas masuk-keluar kota, manajemen interaksi, memberikan edukasi dan promosi kesehatan, dan disiplin protokol kesehatan. Selain itu, Dinkes juga meningkatkan kapasitas respons terhadap pencegahan sekunder yaitu meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan petugas kesehatan tentang varian baru Omikron dan menguatkan sistem surveilans Covid-19.

"Kita sudah melaksanakan surveilans pada kasus PTM (Pembelajaran Tatap Muka) di sekolah-sekolah, melaksanakan surveilans Whole Genome Sequencing (WGS) bersama dinas provinsi, menguatkan jejaring faskes, serta melakukan analisis mingguan perkembangan kasus dan rekomendasi kewaspadaan dini," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, dalam Focus Group Discussion ‘Antisipasi Penyebaran Omikron di Yogyakarta’ melalui siaran langsung pada kanal Youtube Republika Official, Selasa (21/12).

Diketahui, situasi dan kondisi Covid-19 di Kota Yogyakarta sudah melandai. Berdasarkan surveilans sebanyak 15 kelurahan sudah berada di zona kuning atau risiko rendah dan 30 kelurahan berada di zona hijau/tidak berpengaruh. Kendati demikian, Emma mengimbau masyarakat untuk tidak lengah dan tetap waspada dalam rangka pencegahan virus agar jangan sampai terjadi peningkatan kasus.

Berdasarkan penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Variant of Concern (VoC) Omikron lebih menular, lebih berat gejalanya, dan memengaruhi sistem imun tubuh yang bisa berdampak pada vaksinasi, terapi, maupun alergia diagnostik. Terdapat sekitar 26-32 mutasi pada spike protein di mana berdekatan langsung dengan sistem respirasi, yang diketahui mempunyai efek terhadap transmisi gejala dan efektivitas vaksinasi.

Ketua Pokja Genetika FKKMK UGM, Gunadi, mengatakan reproduksi Omikron di dalam saluran napas atas 70 kali lebih cepat dibanding varian Delta. "Ini menunjukkan bahwa Omikron memang lebih cepat menular dibanding Delta, dengan gejalanya yang sangat bervariasi meskipun lebih banyak yang asimtomatik, tidak bergejala, hingga gejala ringan," tutur Gunadi.

Sementara itu, Pemkot Yogya berhasil melakukan vaksinasi 100 persen, atau melebihi target yang ditetapkan. Pemkot Yogya juga sudah memulai vaksinasi untuk anak-anak, serta melakukan pemeriksaan status vaksinasi terhadap wisatawan di Malioboro. 

Sebagai tindak lanjut, untuk meningkatkan imun setelah dilakukan vaksinasi, Dinkes Kota Yogya akan mem-booster tenaga kesehatan, tenaga penunjang kesehatan, kader kesehatan, dan relawan yang turut membantu dalam pencegahan Covid-19. 

"Pemerintah kota sudah menyiapkan 300 bed untuk seluruh rumah sakit, menambah ketersediaan tabungan oksigen, bantuan oksigen konsentrat sudah banyak, sehingga harapannya apabila terjadi lonjakan kasus, rumah sakit sudah mengantisipasinya," kata Emma.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 

Terkait


Khawatir Omicron, Selandia Baru Batal Buka Perbatasan

Bagaimana Melindungi Diri dari Varian Omicron?

Wiku: Kasus di Indonesia Konsisten Alami Penurunan

Ajudan Positif Covid, Presiden AS Joe Biden Negatif

Penyebaran Omicron yang Tinggal Menunggu Waktu

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark