Cito kembangkan Pemeriksaan di Bidang Autoimun

Red: Fernan Rahadi

Laboratorium Klinik Cito (ilustrasi)
Laboratorium Klinik Cito (ilustrasi) | Foto: dokpri

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG – Jangan sepelekan tanda-tanda seperti cepat lelah, pegal otot, ruam kulit, demam ringan, rambut rontok, sulit konsentrasi, kesemutan tangan dan kaki. Bisa jadi itu gejala autoimun, salah satu penyakit yang belakangan baru disadari.

Autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Semacam senjata makan tuan. Sistem kekebalan di dalam tubuh itu diciptakan untuk menjaga dari serangan organisme asing, seperti virus dan bakteri. Mereka akan bereaksi cepat dengan melepas protein antiboni, ketika ada penyakit masuk.

Namun, pada penderita autoimun, sistem kekebalan tubuh mendeteksi sel tubuh yang sehat justru sebagai organisme asing, seperti penyakit yang masuk. Maka antibodi dilepaskan tubuh untuk menyerang sel-sel sehat tersebut. Karena itu, autoimun ini sangat berbahaya, karena gejalanya berbeda-beda.  

"Cito terus mengembangkan pemeriksaan di bidang autoimun, agar bisa tertangani dan dapat dimonotor dengan baik," kata Direktur Utama Laboratorium Klinik Cito, dr Dyah Anggraeni dalam Acara Webinar Comprehensive Autoimun Management bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang dan Perhimpunan Reumatologi Indonesia, Jumat (14/1) lalu.

Ketua Perhimpunan Reumatologi Indonesia Cabang Semarang, dr Bantar Suntoko, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan pemeriksaan kedokteran saat ini semakin canggih. Dari laboratorium yang mendukung proses diagnosis, sampai para klinisi yang makin kaya ilmu terbaru.

"Kegiatan ini bagus untuk memberi gambaran kepada para klinisi dalam mendiagnosa dan mengelola penyakit autoimun, sehingga bisa menangani secara tepat," jelasnya. 

Beragam gejala dan tanda-tanda yang bisa dirasakan penderita autoimun ini. Penyebabnya, belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa faktor bisa meningkatkan risiko seseorang untuk terkena penyakit autoimun. Seperti, rata-rata perempuan, punya Riwayat autoimun di keluarga, obesitas, atau berat badan yang berlebih (overweight), kebiasaan merokok, sering menggunakan obat yang mempengaruhi kekebalan tubuh, seperti obat simvastatin atau antibiotik, terpapar bahan kimia atau cahaya matahari, infeksi bakteri atau virus, dan lainnya.

Dyah mengungkapkan, laboratorium Klinik Cito sudah mampu mengerjakan beberapa parameter autoimun dan rematik, antara lain ANA Immunofluorescence, ANA Profile, Ana Elisa, Sel LE (Lupus Erythematosus) , LE Tes, Anti Ds DNA, IgM/IgG ACA, IgM/IgG B2GPI, Anti CCP  dan masih banyak lagi. Lebih jauh, Dyah menyarankan, jika mengalami gejala yang mendekati ciri-ciri autoimun, segeralah konsultasi ke dokter.  

"Laboratorium Klinik Cito menyediakan layanan konsultasi dokter online melalui layanan Ready dokter. Reservasi sekarang di https://labcito.co.id/cvc/, di manapun dan kapanpun, dokter kami selalu ready untuk layanan konsultasi Kesehatan," ungkap Dyah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 

Terkait


Studi: Diet Ala Barat Jadi Sebab Sakit Autoimun

Kebiasaan Ini Bisa Buat Anda Terlihat Lebih Muda

Konsumsi Vitamin D dan Omega-3 Kurangi Risiko Sakit Autoimun

Amankah Penderita Autoimun Divaksinasi? Ini Kata Dokter

Imunitas Bermasalah tak Selalu Jadi Tanda Sakit Autoimun

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark