Jumlah Pasien Probable Omicron di Kota Semarang Hingga Akhir Januari 2022

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Fernan Rahadi

Ilustrasi Covid-19 varian Omicron
Ilustrasi Covid-19 varian Omicron | Foto: Pixabay

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang memang belum mengonfirmasi kembali temuan kasus Covid-19 varian Omicron di daerahnya. Namun seiring dengan penambahan kasus baru, jumlah sampel uji Whole Genome Sequencing (WGS) dari pasien terkonfirmasi positif  terus bertambah.

Kepala Dinkes Kota Semarang, Mochamad Abdu Hakam yang dikonfirmasi menyampaikan, soal varian Omicron, di Kota Semarang yang sudah definitif ada enam kasus dan sudah dinyatakan sembuh.

Namun sampai dengan akhir Januari 2022 kemarin, sudah ada sedikitnya 23 pasien probable Omicron atau pasien yang dicurigai Omicron (dengan hasil WGS yang belum keluar), di Kota Semarang.

“Di luar itu, kasus Covid-19 yang ditemukan di Kota Semarang lainnya masih merupakan Covid-19 varian Delta,” ungkapnya, di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (2/2).

Dari sejumlah kasus yang terpantau akhir- akhir ini, ujar Abdul Hakam, yang memiliki keluhan batuk kemudian tenggorokan kering. Maka Dinkes juga ters mewaspadai.

Karena gejala tersebut mengarah pada gejala Omikron, maka harus hati- hati Sementara yang bergejalan demam juga tetap ada. "Namun mereka yang bergejala batuk dan tenggorokan kering lebih banyak," katanya.

Oleh karena itu, Dinkes Kota semarang kembali mengingatkan, andemi Covid-19 belum selesai dan berbagai atisipasi tetap dilakukan, seperti ruang isolasi harus dipersiapkan. Bahkan beberapa sekma apabila kapasitas isoter penuh juga sudah disiapkan.

Sebab dengan dinamika kasus yang terjadi termasuk berkembangnya varian Omicron, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah membuat beberapa perubahan di dalam pelaksanaan PPKM guna mengendalikan Covid-19.

"Misalnya, parameter  cakupan vaksinasi ke-1 yang harus terpenuhi dimungkinkan bakal dinaikkan di angka 80 persen, setelah selama ini di angka 70 persen. Demikian halnya baksinasi kelompok lansia," ujarnya.

Yang kedua, masih jelas Abdul hakam, varian Omicron penyebarannya cepat tetapi proses kesembuhannya juga cepat dan banyak yang tidak disertai dengan gejala.

Maka skema treatment dengan karantina di rumah (isoman) tentunya harus dapat terpenuhi unsur- unsurnya, seperti tidak berkumpul terlebih dahulu dengan anggota keluarga yang lain, kemudian ruang isolasi yang terpisah dengan yang sehat dan lainnya.

"Kalau ternyata semua faktor itu tidak bisa terpenuhi, maka pasien isoman akan digeser (dipendahkan) ke tempat isoter, agar tidak menularkan kepada anggota keluarga lain yang lebih sehat dan lingkungan," katanya.

 

 

Terkait


Dr Erlina Burhan Ungkap Ciri Nyeri Tenggorokan Akibat Omicron Berikut Cara Meredakannya

Puluhan Santri di Sukoharjo Terpapar Covid-19, PTM Dihentikan

Kasus Covid-19 Merangkak Naik, Pemkot Semarang Siapkan Pengendalian

Cepat Menular-Masif Kasusnya, PDPI: Lonjakan Omicron Fenomena Super Spreader

Jangan Remehkan, Ini Daftar Keparahan Gejala Covid-19

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark