Tingkatkan Panen Budi Daya Kepiting Lewat Crab Ball

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq

Panen kepiting bakau.
Panen kepiting bakau. | Foto: Dokumen

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu jenis komoditas perikanan yang potensial dibudidayakan karena disenangi masyarakat. Kepiting bakau banyak dijumpai di perairan payau yang banyak ditumbuhi tanaman mangrove.

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Pusat Pengembangan Daya Saing (Pusdaing) Kemendes PDTT pun menerapkan uji teknologi crab ball. Diterapkan di hutan mangrove di Pantai Baros yang berlokasi di Padukuhan Baros, Tirtohargo, Kretek, Bantul, DIY.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama UNY, Prof Siswantoyo mengatakan,  kegiatan diadakan untuk sosialisasikan dan implementasikan pemanfaatan teknologi tepat guna crab ball. Hal itu dilakukan demi tingkatkan produksi kepiting. "Sehingga, mampu meningkatkan daya saing petani tambak," kata Siswantoyo, Rabu (16/2/2022).

Lurah Tirtohargo, Sugiyamto menuturkan, sebelum ada bantuan kerja sama dari UNY warga Baros mencari kepiting dengan menggunakan jaring atau jebakan secara tradisional. Namun, selama ini hasilnya masih kurang maksimal karena bersifat musiman.

Ternyata, ada metode budi daya kepiting baru seperti crab call yang lebih menguntungkan. Karenanya, Karang Taruna Baros menginisiasi pelatihan kepada warga Baros dan telah menghasilkan kepiting empat ekor setiap kilogram. "Berharap, ke depan panen kepiting dapat mencapai jumlah 2 atau 1 ekor tiap kilogramnya," ujar Sugiyamto.

Koordinator Bumdes Tirtohargo, Setiyo menilai, crab ball dapat penuhi kebutuhan lokal kepiting karena dukungan lingkungan seperti muara Sungai Opak-Oya yang mengalami pasang saat musim kemarau. Yang mana, waktu terbaik memanen kepiting.

Penempatan crab ball harus di perairan payau yang teraliri pasang surut air laut. Bila lokasi itu terhambat aliran air, maka perlu dilakukan penghilangan hambatan aliran air, harus terus dijaga agar air lancar ke luar dan masuk area.

Sampah yang menumpuk atau lumpur yang menyumbat aliran harus dibersihkan secara rutin. Terhambatnya aliran air di area budidaya dapat menurunkan tingkat oksigen terlarut di daerah-daerah tersebut yang berakibat tingginya kematian kepiting.

"Lancarnya aliran air yang memfasilitasi pergantian air di lokasi budidaya turut menjamin pencucian wilayah budi daya, dan bahan-bahan pencemar yang berasal dari daerah itu dapat dialirkan ke luar dan digantikan air yang segar," kata Setiyo.

Kepala Pusdaing, Helmiati menambahkan, budi daya kepiting menggunakan crab ball yang berhasil baik dapat menjadi rujukan dan jadi rekomendasi bagi pemerintah daerah yang membutuhkan. Tahun ini, Pusdaing akan kembali menggandeng UNY.

Khususnya, untuk memberdayakan desa-desa yang memiliki potensi lain yang sesuai kebutuhan masyarakat. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan kerja sama bidang kepiting untuk dapat memberikan nilai tambah terhadap kepiting yang dihasilkan.

"Di Pusdaing ada empat yang dapat menjadi indikator kinerja utama, kreativitas dan inovasi, teknologi tepat guna, teknologi tinggi, serta teknologi digital. Berharap banyak ide baru dari UNY dalam kerja samanya dengan Pusdaing tahun ini," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 

Terkait


Guru Harus Kuasai Subjek Pembelajaran dan Teknologi

UNY Kembangkan Camilan Pembantu Diet

Inobike UNY Dukung Program Green Campus

Mahasiswa UNY Ajak Warga Kledokan Olah Sampah Plastik

Himakom UNY Adakan Bulan Komunikasi 2021

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark