Jumat 25 Feb 2022 09:06 WIB

Mahasiswa UMM Raih Penghargaan di Istanbul Youth Summit

Tujuan dari aplikasi ini untuk mengurangi ketimpangan pendidikan di Indonesia.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih juara tiga The Best Project Grup Project setelah mempresentasikan projek perbaikan pendidikan melalui aplikasi pada Konferensi Internasional Istanbul Youth Summit 2022.
Foto: Dok. Humas UMM
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih juara tiga The Best Project Grup Project setelah mempresentasikan projek perbaikan pendidikan melalui aplikasi pada Konferensi Internasional Istanbul Youth Summit 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Maftuh Ikhsan Nanda Kurniawan, berhasil meraih juara tiga The Best Project Grup Project setelah mempresentasikan proyek perbaikan pendidikan melalui aplikasi pada Konferensi Internasional Istanbul Youth Summit 2022. Konferensi yang diselenggarakan oleh Yayasan Youth Break the Boundaries (YBB) tersebut berlangsung selama mulai 14 hingga 17 Februari lalu.

Mahasiswa yang disapa Nanda ini menjelaskan, aplikasi pendidikan yang ia kembangkan bersama tim diberi nama eduteers.id. Tujuan utama dari aplikasi ini untuk mengurangi ketimpangan pendidikan yang ada di Indonesia dengan tagar Connecting the Gap.

Aplikasi ini dikembangkan dengan model pembelajaran pembelajaran yang menyenangkan. Hal ini berisi kuis dan video animasi sehingga akan menarik minat para siswa untuk belajar. Menurut Nanda, timnya tidak hanya membuat versi aplikasi tetapi juga versi situs.

Selain berguna untuk proses belajar mengajar, aplikasi dan situs dari eduteers.id ini akan difungsikan untuk mendistribusikan para relawan pendidikan ke daerah terbelakang. "Terpencil, dan tertinggal yang ada di Indonesia,” ungkap mahasiswa asal Lamongan tersebut.

Dijelaskan, saat mempresentasikan proyek ini di Konferensi Internasional Istanbul Youth Summit 2022, ia bersama tim telah bekerja sama dengan Sekolah NKRI di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas 1 Medan untuk uji coba aplikasi. Pemilihan sekolah NKRI sebagai tempat uji coba dikarenakan Nanda dan tim ingin memberikan pendidikan formal yang setara kepada anak-anak di dalam penjara.

Menurut Nanda, akses pendidikan yang anak-anak tersebut peroleh setelah masuk penjara sangat kurang. Masuknya eduteers.id ke lingkungan mereka juga sebagai upaya memutus ketimpangan pendidikan di Indonesia. Dengan demikian, semua anak dapat memiliki kesempatan belajar hal yang sama.

Mengenai raihan prestasi yang ia dapatkan, Anak pertama dari dua bersaudara itu mengaku sangat bersyukur dapat bersaing di kancah internasional dan mendapat penghargaan. Utamanya dalam rangka mengharumkan nama kampus serta membanggakan orang tua. Bantuan dan dukungan dari pihak kampus juga sangat membantunya selama di Turki.

Saat ini aplikasi maupun situs eduteers.id masih dalam tahap pengembangan. Dia berharap ke depannya akan banyak pihak yang membantu tim dalam proses pengembangan eduteers.id.

"Untuk teman-teman lain, semoga dapat menjadi inspirasi untuk tetap produktif serta menebar manfaat kepada masyarakat di tengah pandemi,” kata dia menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement