Rabu 09 Mar 2022 16:05 WIB

Kolaborasi Baznas-SMKN Jateng Optimalkan Potensi Wirausaha Disabilitas

Pelaksanaan pelatihan merupakan gelombang kedua dengan jumlah peserta 60 orang.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq
 Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, berdialog dengan peserta usai membuka kegiatan Pelatihan Mekanik Sepeda Motor bagi penyandang disabilitas di SMKN Jateng, di Semarang, Rabu (9/3/2022). Pelatihan keterampilan ini merupakan program kerja sama Banzas Provinsi Jateng dengan SMKN Jateng.
Foto: Dokumen.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, berdialog dengan peserta usai membuka kegiatan Pelatihan Mekanik Sepeda Motor bagi penyandang disabilitas di SMKN Jateng, di Semarang, Rabu (9/3/2022). Pelatihan keterampilan ini merupakan program kerja sama Banzas Provinsi Jateng dengan SMKN Jateng.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jawa Tengah besama dengan SMKN Jateng berkolaborasi memberikan pelatihan ketrampilan bagi para penyandang disabilitas. Pelatihan ini untuk membekali para penyandang disabilitas agar dapat mandiri melalui pemanfaatan keterampilan yang telah diperolehnya.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mengapresiasi inovasi Baznas Jateng yang telah menggandeng SMKN Jateng dalam melaksanakan program pemberdayaan bagi penyandang disabilitas. “Karena keterampilan yang telah dimiliki bakal menjadi bekal bagi teman-teman penyandang disabilitas untuk menjadi entrepreneur,” ungkapnya, saat membuka kegiatan Pelatihan Mekanik Sepeda Motor bagi penyandang disabilitas di SMKN Jateng, di Semarang, Rabu (9/3).

Program pelatihan keterampilan ini merupakan program yang diselenggarakan oleh Baznas Provinsi Jateng bersama SMKN Jateng. Pelaksanaan pelatihan merupakan gelombang kedua dengan jumlah peserta mencapai 60 orang penyandang disabilitas. “Mereka para penyandang disabilitas yang berasal dari berbagai daerah di Jateng,” jelas Ganjar.

Gubernur menyampaikan, tidak hanya animo peserta pelatihan yang menjadi perhatiannya. Namun kolaborasi Baznas dengan SMKN Jateng ini juga dapat dikembangkan dalam bidang pelatihan lain yang lebih luas kepada para penyandang disabilitas di daerahnya.

Sebab setelah melakukan dialog dengan peserta pelatihanm ternyata juga ada beberapa kelompok ibu-ibu. Saking penasarannya, gubernur pun menanyakan alasan mereka mengikuti pelatihan mekanik sepeda motor tersebut.

Rupanya kelompok ibu-ibu yang penyandang disabilitas yang dimaksud menginginkan sejumlah pelatihan yang selama ini umum di bidangi kaum perempuan. “Mereka ada yang ingin mendapatkan keterampilan menjahit dan tata busana, boga, dan beberapa keterampilan lainnya,” lanjut Ganjar.

Maka ia pun meminta kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Sosial untuk melakukan assesmen dan merancang pelatihan seperti yang diharapkan para ibu penyandang disabilitas tersebut. Bahkan gubernur berharap juga keterlibatan SMK yang lain.

Misalnya nanti SMK Boga dapat  membantu komunitas yang minat boga, yang SMK punya perbengkelan membantu komunitas yang minat perbengkelan atau ada pemilahan pelatihan per komunitas. “Itulah yang nanti kita harapkan, maka peralatan yang ada, guru-guru yang ada bisa punya manfaat lebih bagi saudara-saudara penyandang disabilitas ini,” tambah gubernur.

Selain itu, Ganjar juga berharap dari pelatihan ini, ke depan ada tahap asesmen kepada para penyandang disabilitas tersebut. Kemudian didata sejak awal apa kebutuhan dan pelatihan keterampilan yang diinginkan.

Maka setelah angkatan kedua ini, diperbaiki Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, dan Dinas Tenaga Kerja untuk membantu dan evaluasi. Kalau memang perlu ada ujian semester agar didampingi terus hasilnya seperti apa dan jangan sampai mubazir.

Bukan tidak mungkin, dimulai dari yang kegiatan seperti ini nanti akan meningkat. “Jadi dalam situasi seperti ini, penting kita membantu mereka agar mereka bisa mandiri,” ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement