Wabah PMK, Penjualan Susu Sapi di Kota Batu Masih Aman 

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Fernan Rahadi

Peternak meminumkan jamu tradisional berupa larutan kunyit dan temu hitam sebagai antibiotik alami serta penambah nafsu makan pada sapi peliharaannya di Peternakan Sari Rumput, Malang, Jawa Timur, Kamis (12/5/2022). Pemberian jamu tradisional tersebut dilakukan setiap tiga hari sekali untuk memperkuat daya tahan tubuh sapi agar tidak terjangkit wabah penyakit kuku dan mulut (PMK).
Peternak meminumkan jamu tradisional berupa larutan kunyit dan temu hitam sebagai antibiotik alami serta penambah nafsu makan pada sapi peliharaannya di Peternakan Sari Rumput, Malang, Jawa Timur, Kamis (12/5/2022). Pemberian jamu tradisional tersebut dilakukan setiap tiga hari sekali untuk memperkuat daya tahan tubuh sapi agar tidak terjangkit wabah penyakit kuku dan mulut (PMK). | Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto

REPUBLIKA.CO.ID, BATU -- Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak terus menyebar ke sejumlah daerah di Indonesia. Namun keberadaan penyakit ini ternyata tidak menimbulkan efek negatif untuk para peternak sapi.

Ketua Kelompok Tani Margomulyo, Muhammad Munir mengatakan, penjualan susu dari sapi perah di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu masih aman. "Kalau daging, kita belum lihat ke sana," kata Munir yang juga peternak sapi ini kepada Republika, Kamis (12/5/2022).

Namun Munir meyakini virus yang menyebabkan PMK tidak membahayakan manusia. PMK tidak bisa menjangkiti manusia karena bukan penyakit zoonosis. Sebab itu, tidak akan terjadi masalah apabila mengonsumsi susu ataupun daging sapi selama diolah dengan benar.

Dusun Brau sendiri tercatat memiliki 500 sampai 600 sapi perah. Untuk jumlah sapi potong di Dusun Brau hampir tidak ada. Hal ini karena wilayahnya lebih fokus beternak sapi perah. 

Menurut Munir, hampir 98 persen warga di Dusun Brau berprofesi sebagai peternak sapi. Hal ini berarti berternak menjadi mata pencaharian pokok bagi warga Dusun Brau. Perekonomian utamanya dari sapi perah dengan produksi susu setiap hari.

Adapun mengenai kasus PMK di dusunnya, Munir mengungkapkan, sejauh ini belum menerima laporan. Namun dia berharap virus yang menyebabkan PMK pada hewan ternak tersebut tidak tiba di daerahnya. Pihaknya hanya bisa berusaha dan berdoa agar dusunnya terhindar dari wabah tersebut.

Hal yang pasti, pihaknya hanya mampu mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Para peternak setidaknya harus dapat menjaga sanitasi ternak, kandang dan peralatan perahnya. Kedua, Munir mengimbau warganya untuk tidak mendatangkan sapi dari luar wilayah guna mencegah penularan. 

Imbauan waspada juga ditunjukkan kepada para peternak agar berhati-hati saat berinteraksi dengan orang-orang dari luar dusun. "Karena dikhawatirkan baik orang ataupun ternaknya ini jadi media penularan PMK," jelasnya.

Di samping itu, Munir juga berencana untuk meminta bantuan kepada dinas terkait di Kota Batu. Hal ini terutama untuk memohon bantuan penyemprotan disinfektan di semua kandang. Lalu pemberian vitamin dan antibiotik agar imunitas ternak bisa stabil dan terhindar dari wabah.

 

 

Terkait


Sudin KPKP Jakut Monitor Hewan Ternak, Tak Temukan PMK

Ribuan Ternak Kena PMK, Pedagang Sebut Konsumen Daging Mulai Khawatir

Penjualan Sapi tidak Terdampak Penyakit PMK

Surabaya Terjunkan Dokter Hewan Periksa Ternak untuk Cegah Penyebaran PMK

PB IDI: Kasus Penularan Virus PMK ke Manusia Amat Rendah 

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

[email protected]

Ikuti

× Image
Light Dark