Antisipasi PMK, Sleman Cegah Masuknya Ternak dari Luar

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Fakhruddin

Antisipasi PMK, Sleman Cegah Masuknya Ternak dari Luar (ilustrasi).
Antisipasi PMK, Sleman Cegah Masuknya Ternak dari Luar (ilustrasi). | Foto: ANTARA/Asep Fathulrahman

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN -- Situasi terkini penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) semakin meluas ke daerah-daerah seperti Gresik, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo dan Aceh Tamiang. Kabupaten Boyolali jadi daerah terdekat dari Sleman yang ditemukan positif PMK.

Boyolali berbatasan langsung dengan Sleman. Lalu, banyak sekali akses jalan dan lalu lintas ternak yang hubungkan kedua daerah ini, sehingga resiko penyebaran ke Sleman sangat tinggi. Usaha mengamankan ternak yang memiliki populasi dilakukan.

Kepada sapi potong 32.625 ekor, sapi perah 3.419 ekor, kerbau 189 ekor, kambing 23.802 ekor, domba 36.113 ekor dan babi 3.781 ekor yang dimiliki peternak Sleman yang tergabung dalam kelompok-kelompok ternak. Seperti sapi potong 624 kelompok.

Kemudian, sapi perah 62 kelompok, kambing 72 kelompok, domba 60 kelompok dan babi dua kelompok. Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Suparmono mengatakan, langkah-langkah itu mutlak harus dilakukan Pemkab Sleman.

Baca Juga

Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman telah melakukan langkah seperti koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Balai Karantina Pertanian Yogyakarta, Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates dan kab/kota di DIY.

"Untuk update informasi penyebaran PMK dan menentukan kebijakan pencegahan masuknya PMK yang salah satunya pengaturan lalu lintas ternak antar kabupaten, melakukan koordinasi internal dan menggerakkan semua petugas," kata Suparmono, Jumat (13/5/2022).

Baik di UPTD Balai Penyuluhan Pertanian, Pangan dan Perikanan, UPTD Pelayanan Kesehatan Hewan, UPTD Pasar Hewan dan Rumah Potong Hewan, Pusat Kesehatan Hewan. Semua diminta bersinergi mengawasi dan melakukan sosialisasi KIE terkait PMK.

Kemudian, merespon cepat terhadap laporan masyarakat di setiap kapanewon. Lalu, memastikan ketersediaan obat, desinfektan, alat pelindung diri dan sarana lain di UPTD Pelayanan Kesehatan Hewan dan Pusat Kesehatan Hewan cukup tersedia dan siap.

Membuat Tim Monitoring dan Pengawasan Lalu Lintas Ternak yang bertugas setiap kali pemasaran dilakukan. Ada di Pasar Hewan Ambarketawang Gamping, Pasar Hewan Jangkang Widodomartani Ngemplak dan Pasar Kambing Nganggring, Girikerto, Turi.

Membuat bahan informasi tentang PMK dalam bentuk flyer dan brosur sosialisasi tentang PMK kepada masyarakat. Memberikan KIE kepada peternak, pengurus kelompok ternak, pengurus koperasi peternak sapi perah, pengurus perserikatan peternak.

Dengan menitikberatkan imbauan untuk saat ini agar tidak membeli dan memasukkan ternak dari luar Sleman. Melakukan biosecurity kandang, alat angkut, pasar dan orang yang masuk di lingkungan kandang atau peternakan.

"Melaporkan kepada petugas pusat kesehatan hewan terdekat jika ditemukan ternak sakit. Melakukan pengambilan sampel daging, khususnya daging impor di pasar modern. Selanjutnya, dilakukan pengujian sampel di Balai Besar Veteriner Wates," ujar Suparmono. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 

Terkait


Antisipasi PMK, Polisi dan Dokter Hewan Sidak Peternakan di Cirebon

Sleman Terus Dorong Percepatan Penurunan Stunting

Dispertanikap Pantau Kesehatan Sapi Asal Polosiri yang Terindikasi PMK

PMK Meluas, Pakar Duga Ada Impor Ilegal Hewan Berkuku Belah

Kementan: Ternak Untuk Idul Adha Tahun Ini Tetap Aman

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark