Satu Desa di Kabupaten Semarang Darurat PMK

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Fernan Rahadi

Bupati Semarang, H Ngesti Nugraha turut menyemprotkan disinvektan pada ternak sapi di kandang komunal CV CV Bangkit Sukses Mandiri (BSM) di lingkungan Dusun Gintungan, Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jumat (20/5) sore. Guna mencegah penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di daerahnya, bupati memastikan seluruh pasar hewan yang ada di Kabupaten Semarang ditutup Sementara.
Bupati Semarang, H Ngesti Nugraha turut menyemprotkan disinvektan pada ternak sapi di kandang komunal CV CV Bangkit Sukses Mandiri (BSM) di lingkungan Dusun Gintungan, Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jumat (20/5) sore. Guna mencegah penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di daerahnya, bupati memastikan seluruh pasar hewan yang ada di Kabupaten Semarang ditutup Sementara. | Foto: Republika/Bowo Pribadi

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak sapi perah di wilayah Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah kian memprihatinkan.

Ratusan ekor sapi yang tersebar di sejumlah kandang warga dan kandang komunal saat ini berstatus suspek PMK dan dua ekor sapi milik warga mati diduga akibat terpapar penyakit hewan ternak berkuku belah ini.

Kepala Desa Kalisidi, Dimas Prayitno mengungkapkan satgas PMK di desanya terus meningkatkan pemantauan penyebaran PMK pada hewan ternak agar dapat dilakukan tindakan cepat jika ditemukan hewan ternak suspek PMK.

Karena kasus sapi perah dengan gejala klinis mirip PMK kian bertambah. "Setiap hari satgas PMK memantau perkembangan di kandang- kandang," ungkapnya, di Ingaran, Kabupaten Semarang, Kamis (2/6).

Menurutnya, populasi sapi di Desa Kalisidi sebanyak 360 ekor sapi perah. Dari jumlah ini sebanyak 60 ekor sapi dipelihara di enam kandang komunal dan 300 ekor sapi berada di kandang perorangan warga.

Sebanyak 210 ekor sapi diduga telah terpapar PMK dan dua ekor sapi dilaporkan mati. "Saat ini hanya dua kandang komunal yang masih steril dari virus PMK di Desa Kalisidi," kata Dimas.

Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, Wigati Sunu menjelaskan kasus PMK pertama kali teridentifikasi di daerahnya pada pemeriksaan yang dilakukan pertengahan Mei 2022 lalu.

Sampai dengan akhir Mei lalu tercatat sudah ada 494 ekor sapi suspek PMK. Dari jumlah tersebut  sebanyak lima ekor sapi di antaranya terkonfirmasi PMK dan dua ekor sapi dilaporlan mati.

"Sejauh ini Kecamatan Bawen menjadi satu- satunya wilayah zona merah PMK di Kabupaten Semarang, karena telah terkonfirmasi kasusnya," jelas Wigati Sunu.

 

Terkait


PMK Ternak Menyebar Luas di Desa Kalisidi Kabupaten Semarang

PMK Masuk Sukabumi, Peternak Diminta Waspada

Sekjen DMI: Pemerintah Harus Kawal Pemeriksaan Hewan Qurban  

Perpanjangan Penutupan Pasar Hewan Ternak Bakal Sulitkan Peternak

Temuan Kasus PMK di Kabupaten Semarang Makin Bertambah

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark