Kasus Leptospirosis Terus Ditemukan di Sleman

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Fernan Rahadi

Leptospirosis (ilustrasi).
Leptospirosis (ilustrasi). | Foto: infokedokteran.com

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Kasus leptospirosis masih terus ditemukan di Sleman. Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama mengatakan, terbanyak ada lima di Kapanewon Prambanan, empat kasus di Kapanewon Berbah dan tiga kasus Kapanewon Kalasan.

Leptospirosis tergolong penyakit hewan yang bisa menjangkiti manusia atau zoonosis. Penyakit ini disebabkan infeksi bakteri leptospirosis berbentuk spiral menyerang hewan dan manusia, dapat hidup di air tawar sekitar satu bulan.

Untuk itu, ia menekankan, perlu penguatan dari sisi pengelolaan baik tingkat kapanewon maupun ke puskesmas-puskesmas untuk memberdayakan masyarakat. Apalagi, seperti leptospirosis merupakan penyakit yang penyebarannya berbasis lingkungan.

"Karena ini penyakit yang berbasis lingkungan semua, leptospirosis dan DBD sama, lepto ditularkan lewat kencing tikus dan memang perlu kehati-hatian masyarakat," kata Cahya, Ahad (12/6/2022)

Cahya mengingatkan tentang perubahan pola penyebaran dari leptospirosis. Sebab, awal penemuan kasus di Kabupaten Sleman muncul di daerah-daerah yang memiliki banyak lahan pertanian. Kini, terbukti kasus-kasus muncul di daerah yang biasa.

Kapanewon Prambanan, misal, daerah yang tidak memiliki lahan pertanian begitu banyak dibandingkan daerah lain, malah jadi yang terbanyak ditemukannya kasus. Kemudian, Berbah dan Kalasan, banyak kasus yang berawal dari daerah dekat air.

Seperti tempat yang memiliki aliran-aliran sungai atau kolam-kolam ikan, malah kadang terbilang longgar perhatiannya. Padahal, banyak dijadikan tempat kencing tikus, termasuk ketika ada air yang teduh karena di sampingnya ada pohon-pohon.

"Jadi, tolong masyarakat bisa berperilaku sehat dan menjaga lingkungan tetap bersih," ujar Cahya.

Pada Maret 2022 lalu, sudah ditemukan tiga kasus leptospirosis yang ditemukan di Kabupaten Sleman. Ia mengaku bersyukur, semua kasus-kasus yang dilaporkan dapat tertangani cepat dan tepat, sehingga tidak ada korban yang meninggal dunia.

Leptospirosis diakibatkan kencing tikus dengan gejala-gejala seperti flu, suhu badan tinggi, nyeri di betis, mata berwarna merah atau kuning. Karenanya, Cahya mengimbau warga melaporkan jika masyarakat mengalami gejala-gejala tersebut.

 

Terkait


Kasus Leptospirosis Masih Terus Ditemukan di Sleman

Tiga Kasus Leptospirosis Telah Ditemukan di Sleman

Sleman Sudah Temukan Kasus Leptospirosis

Antisipasi Leptospirosis, Petani Sleman Diminta Biasakan Memakai Bot

Kementan dan 3 Kementerian Sepakati Enam Zoonosis Prioritas

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark