Keramikus Dian Hardiansyah Bawa Misi Keberlanjutan Lingkungan

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Yusuf Assidiq

Seniman keramik (keramikus) Dian Hardiansyah di depan karyanya yang berjudul Ziarah Bumi di Distrik Seni Sarinah.
Seniman keramik (keramikus) Dian Hardiansyah di depan karyanya yang berjudul Ziarah Bumi di Distrik Seni Sarinah. | Foto: Republika/Idealisa masyrafina

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Misi keberlanjutan lingkungan menjadi salah satu topik yang diusung oleh seniman dalam pameran 'Distrik Seni Sarinah'. Dalam naungan tema Berdikari yang diangkat Distrik Seni, seniman Dian Hardiansyah mengungkap makna karyanya yang berjudul Ziarah Bumi.

Karya seni Dian berupa karya seni keramik berbentuk kotak dan segitiga dengan berbagai motif dan warna alam seperti putih, hitam, dan cokelat. Melalui karyanya, keramikus asal Yogyakarta ini menyoroti keberlanjutan lingkungan. Karya keramik Dian yang dipamerkan di Distrik Seni menunjukkan elemen bumi dengan warna warni tanah dari berbagai daerah.

Pengalamannya belajar keramik di Korea Selatan dan China membawanya pada eksperimen hasil pembakaran yang menjadi ciri khas warna karyanya. Proses pembakaran dengan suhu yang berbeda juga menunjukkan perbedaan hasil warna yang berbeda pada karya seni Dian tersebut. Sementara bentuk-bentuknya, merupakan biomimikri atau terinspirasi dari desain bentuk-bentuk alam.

"Biomimikri ini diaplikasikan dari alam, didesain dan diambil hanya pada benda-benda tertentu. Jadi ini inspirasinya dari alam, makanya ada yang melihat bentuknya kayak duren, ini kayak apa, jadi saya mau membebaskan (imajinasi khalayak-red)," ujar Dian dalam acara Artist's Talk Distrik Seni Sarinah, Sabtu (2/7/22) sore.

Terkait dengan keberlanjutan, ia menyoroti habisnya tanah liat yang dipakai tanpa memperhatikan lingkungan. Seperti tanah liat di Kasongan, Kabupaten Bantul, DIY, yang kini sudah mulai langka karena terus menerus dikeruk untuk industri gerabah.

Menurutnya, cara nenek moyang menggunakan hasil bumi patut dicontoh yakni dengan menggunakan hanya seperlunya dan membiarkan siklus alam bekerja sebelum menggunakannya kembali. Untuk tanah, contohnya digunakan untuk bercocok tanam kemudian diambil untuk digunakan seperlunya.

"Apapun sustain atau tidak sustain tergantung cara kita menggunakannya. Harus dengan bijak, seperti nenek moyang kita," ujarnya.

Pesan inilah yang juga disampaikan Dian saat membentuk kolektif seni BakarTanahLab yang fokus dalam penelitian tanah liat. Selain itu, ia menjelaskan penelitian tanah yang dilakukan BakarTanahLab di Dieng dalam rangka residensi bersama TanahJiwo.

Penelitian itu menunjukkan tanah di beberapa lokasi di sekitar candi dapat dimanfaatkan sebagai pengganti cat air dengan warna alam karena tanahnya memiliki pigmentasi yang menarik. Hasil penelitian ini dipresentasikan dalam bentuk workshop di Distrik Seni Sarinah.

Akan tetapi, ia berharap hasil penelitian tersebut tidak disalahgunakan untuk mengeruk keuntungan komersial.  Apalagi, tanah yang terkena polutan tidak dapat digunakan untuk membuat karya apapun.

"Tanah yang sudah terkontaminasi limbah atau polutan bisa digunakan tapi butuh kerja ekstra keras, dan tidak bisa tahan lama hasilnya," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 

Terkait


Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark