Tidak Sembarangan, Pembersihan Candi Harus Pakai Bahan Alami

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Yusuf Assidiq

Pekerja membersihkan Candi Jago di Tumpang, Malang, Jawa Timur. Pembersihan tersebut dilakukan secara rutin untuk mencegah kerusakan pada relief dan batuan candi Buddha yang dibangun pada tahun 1268 Masehi oleh Raja Kertanegara.
Pekerja membersihkan Candi Jago di Tumpang, Malang, Jawa Timur. Pembersihan tersebut dilakukan secara rutin untuk mencegah kerusakan pada relief dan batuan candi Buddha yang dibangun pada tahun 1268 Masehi oleh Raja Kertanegara. | Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARNEGARA -- Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Tengah saat ini telah menggunakan bahan-bahan alami untuk melakukan pembersihan candi dan cagar budaya lainnya. Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng, Sukronedi menjelaskan, bahan-bahan alami akan meminimalisir efek samping dari pembersihan candi.

"Sangat aman, kalau kita pakai bahan kimia efek sampingnya mencemari lingkungan. Minyak sereh wangi kan selain membuat cagar budaya harum, dampaknya tidak ada, itu sudah diteliti dan sudah dilakukan untuk konservasi untuk menghilangkan lumut," ujar Sukronedi dalam acara Candi Darling (Sadar Lingkungan) yang diadakan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), Rabu (7/7/22).

Biasanya, apabila akar lumut masuk ke pori-pori batuan, ketika dibersihkan akan membuat mineral batuan ikut terambil. Dengan bahan tradisional seperti minyak sereh wangi, lumut akan mati, mudah dibersihkan, dan tidak mempengaruhi efek membawa mineral batuan.

Minyak sereh telah digunakan untuk membersihkan lumut di Candi Borobudur, Candi Plaosan, dan Candi Sewu. Sedangkan untuk membersihkan cagar budaya berbahan dasar kayu, dapat digunakan cengkeh, tembakau, dan pelepah pisang.

"Sebelumnya pakai bahan kimia, tapi sudah ditinggalkan. Kita beralih ke bahan tradisional itu cukup ampuh, efektivitasnya sama dan dampaknya tidak ada," kata Sukronedi. Untuk itu, pihaknya tengah meningkatkan penggunaan bahan-bahan alami untuk digunakan dalam pemugaran candi.

Sementara itu, Candi Dieng masih dalam pemugaran, meski sudah dibuka untuk para wisatawan. Proses pemugaran telah dilakukan sejak pandemi, dan rencananya tahun ini akan selesai dipugar.

Ia menjelaskan, Candi Dieng merupakan candi yang dibangun sekitar tahun 700 M hingga 780 M. Kemudian candi umat Hindu ini terbengkalai ketika Islam mulai masuk ke Indonesia, pada abad 10 hingga 15, sehingga perlu pemugaran.

"Kerusakan akibat cuaca, gas belerang sulfur, bencana alam seperti longsor dan gempa bumi, kondisi batu bergerak dan sebagainya. Itulah yang kita lakukan sekarang ini (pemugaran)," tuturnya.

Ditargetkan pemugaran Candi Dieng akan selesai tahun ini, sehingga wisatawan bisa sepenuhnya menikmati kunjungan ke cagar budaya ini.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 

Terkait


Perusahaan Mamin AOBI Targetkan Terus Berinovasi di Produk Minuman Serbuk

7 Tips Hilangkan Jerawat dengan Cara Alami dan Mudah Dilakukan

Mengatasi Gangguan Eczema Pada Kulit, Begini Caranya

Di Saat Pandemi, Santri Askar Kauny Produksi Masker Wajah

7 Bahan Alami untuk Samarkan Lingkaran Hitam di Sekitar Mata

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark