Peringatan Bahaya Senyawa Bisphenol-A Kian Mengemuka

Red: Fernan Rahadi

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito (depan) saat memberikan keterangan pers usai mengadakan pertemuan di Jakarta, Selasa (7/6/2022). Pertemuan dengan sejumlah pihak tersebut membahas regulasi pelabelan Bisphenol-A atau BPA.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito (depan) saat memberikan keterangan pers usai mengadakan pertemuan di Jakarta, Selasa (7/6/2022). Pertemuan dengan sejumlah pihak tersebut membahas regulasi pelabelan Bisphenol-A atau BPA. | Foto: Istimewa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peringatan tentang bahaya senyawa Bisphenol-A (BPA) yang bisa luruh dari kemasan plastik keras polikarbonat semakin mengemuka di seluruh dunia. Para pakar, lembaga-lembaga penelitian, dan lembaga-lembaga besar dunia hampir semuanya sepakat dengan regulasi pembatasan kemasan plastik BPA. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun sudah menyampaikan kekhawatiran mereka pada plastik kemasan berbahan BPA ini.

Begitu tingginya kekhawatiran global pada senyawa BPA, 12 tahun lalu Badan Kesehatan Dunia (WHO) sampai mengundang 30 pakar dari Kanada, Eropa dan Amerika Serikat dalam sebuah forum panel di Ottawa, Kanada. Para pakar menelusuri berbagai penelitian tentang dampak BPA terhadap kesehatan.

"Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa dalam kadar yang rendah sekalipun, BPA bisa memberikan efek negatif bagi kesehatan. Di antaranya dapat memicu kanker payudara, obesitas, pubertas dini, impotensi dan gangguan kesehatan lainnya," tulis WHO dalam laporannya. Kanada adalah negara pertama yang menyatakan BPA sebagai senyawa beracun.

Bila dibandingkan banyak negara lain di Amerika dan Eropa, Kanada adalah yang paling serius memberi perhatian terhadap isu BPA. Bahkan lebih maju lagi, sejak  2008, Kanada sudah melarang penggunaan senyawa BPA. 

Di dalam negeri, Ikatan Dokter indonesia (IDI) dan banyak pakar serta periset utama juga telah mengeluarkan peringatan senada. "BPA bisa menyerupai hormon estrogen. Sangat dicurigai dapat memicu kanker payudara," kata Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof Aru Wisaksono Sudoyo dalam siaran pers di Jakarta, Senin (29/8/2022).

Kalangan ahli sepakat menilai paparan hormon estrogen yang berlebihan bisa menjadi salah satu pemicu kanker payudara. Dengan demikian, setiap zat yang membuat hormon estrogen diproduksi secara masif dan berlebihan, termasuk senyawa BPA, diduga kuat dapat memicu kemunculan sel kanker.

"BPA sendiri kerap dikaitkan dengan zat karsinogen yang juga cukup berpengaruh pada timbulnya sel kanker," kata dokter spesialis penyakit dalam subspesialisasi hematologi dan onkologi medik di RSCM itu. Ia memberi contoh perubahan temperatur yang bisa menyebabkan kontaminasi pada makanan dan minuman berkemasan BPA.

Pendapat ini sejalan dengan pernyataan pakar Biomedik Farmasi dan Farmakologi sekaligus Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Junaidi Khotib.   

"Dari kajian yang dilakukan, terjadi pelepasan atau migrasi partikel BPA ke makanan atau minuman yang bersinggungan langsung dengan kemasan primer, sehingga partikel BPA dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 

Terkait


Pro Kontra Labelisasi BPA untuk Air Minum Kemasan, Ini Saran Pakar Hukum Bisnis

Air Minum dalam Kemasan Galon Ganggu Janin? Ini Kata Dokter Spesialis

BPOM Disarankan Lebih Fokus Awasi Jajanan tanpa Izin Edar dan Berbahan Kimia

Seberapa Besar Kandungan Bisfenol A Diserap Tubuh? Ini Penjelasan Peneliti IPB

Legislator Sarankan BPOM Kaji Ulang Rencana Labelisasi BPA, Ini Alasannya

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark