Aptisi Nyatakan Mosi Tidak Percaya kepada Nadiem Makarim

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Fernan Rahadi

Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim, saat berbicara di Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Pendidikan (LP) Ma
Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim, saat berbicara di Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Pendidikan (LP) Ma | Foto: istimewa/doc humas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (Aptisi) menyebutkan, apabila Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) tidak memberikan kontribusi yang baik bagi pendidikan Indonesia, maka sebaiknya Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, diganti saja. Kalau tidak, Aptisi meminta Nadiem turun langsung dari singgasananya untuk mendengarkan para stakeholder di dunia pendidikan secara langsung.

"Jika RUU Sisdiknas tidak memberikan kontribusi yang baik bagi pendidikan di Indonesia, maka pernyataan kami sebaiknya Menteri Nadiem Makarim diganti saja. Pilih nadiem atau rakyat Indonesia," ujar Ketua Umum Aptisi, Budi Djatmiko, dalam rapat dengar pendapat umum di Komisi X DPR RI, Selasa (20/9/2022).

Menurut Budi, selama hampir empat tahun menjabat, Nadiem tidak mengetahui langsung keluhan rakyat, rektor, guru, dosen, dan para mahasiswa. Bahkan, Budi mengibaratkan berbicara dengan Nadiem seperti berbicara dengan tembok, yakni tidak pernah didengar. Nadiem dia sebut sulit diajak untuk berdialog. Undangan dari Aptisi pun dia hadir hanya dengan video saja, tidak berbicara langsung.

"Hanya beberapa kali saja Aptisi diajak rapat koordinasi. Berbeda dengan menteri-menteri sebelumnya biasanya dua-tiga bulan sekali kami meeting untuk membicarakan permasalahan-permasalahan perguruan tinggi di Indonesia," kata Budi.

Padahal, kata dia, Nadiem diharapkan dapat memajukan pendidikan Indonesia dengan ide-ide yang di luar kebiasaan karena latar belakangnya. Tapi ternyata harapan itu lenyap. Nadiem amat tertutup dan hanya percaya pada staf khususnya saja daripada para dirjennya atau pimpinan-pimpinan perguruan tinggi.

"Apakah Presiden tetap mempertahankan Nadiem? Berarti membiarkan pendidikan kita carut-marut yang dituangkan dalam RUU Sisdiknas yang sunyi dan sangat liberal. Atau Pak Presiden memilih kepentingan rakyat?" kata Budi.

Menurut Budi, pimpinan perguruan tinggi swasta (PTS) merasa tidak berarti dan tidak diperdulikan karena aduan yang selama ini dilakukan kepada Kemendikbudristek, baik di tingkat dirjen maupun menteri, kepada presiden tidak didengarkan. Karena itu, berdasarkan rapat Aptisi seluruh Indonesia pihaknya menyatakan mosi tidak percaya kepada kepemimpinan Nadiem.

"Maka rapat Aptisi seluruh Indonesia menyikapi berbagai hal tentang pendidikan nasional dan pendidikan tinggi menyatakan mosi tidak percaya pada kepemimpinan Menteri Nadiem Makarim," jelas Budi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 

Terkait


Mendikbudristek Harapkan TKTB XXI Jadi Momentum Pemulihan Ekonomi

Kemendikbudristek Diminta Perjelas Tunjangan untuk 1,6 Juta Guru

Nadiem Sebut Prinsip Inklusi dan Kesetaraan jadi Semangat Penyusunan RUU Sisdiknas

Nadiem: Peningkatan Kesejahteraan Guru Mandat dari Presiden

Nadiem Makarim: Orkestra G20 Simbol Semangat Pulihkan Dunia

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark