'Literasi Digital Penting untuk Penggunaan Media Sosial yang Kebablasan'

Red: Fernan Rahadi

 Sebuah ilustrasi foto menunjukkan logo aplikasi perpesanan media sosial Signal, Telegram, dan Whatsapp di layar ponsel.
Sebuah ilustrasi foto menunjukkan logo aplikasi perpesanan media sosial Signal, Telegram, dan Whatsapp di layar ponsel. | Foto: EPA-EFE/IAN LANGSDON

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Media sosial selama ini sudah menjadi ruang untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Namun sayangnya, ruang ini justru berubah menjadi lingkungan yang seakan tanpa norma dan etika. Ajang eksistensi diri yang berlebihan dari aktivitas pendek berupa gerakan jari. Bahkan viral pun dianggap tujuan utama walaupun tampak tak bermoral.

Aktivis Media Sosial, Enda Nasution turut menanggapi krisis kesantunan netizen di sosial media yang kini menjadi fenomena tersendiri ditengah kemajuan teknologi informasi. Dirinya menilai percepatan literasi digital menjadi salah satu solusi efektif, guna meringankan penyakit kronis netizen yang tak kunjung reda.

"Harus ada program-program yang lebih sistematis dalam rangka mengedukasi masyarakat tentang literasi digital tentang bijak bersosial media dan tentang dampak dari penggunaan media sosial yang kebablasan," ujar Enda Nasution di Jakarta, Kamis (22/9/2022).

Dirinya melanjutkan, krisis kesantunan sejatinya sudah bukan hal baru bagi dunia media sosial dalam negeri, sehingga dirinya menganggap justru fenomena ini akan terus melekat dan menjadi bagian dari dinamika media sosial.

"Ini memang sesuatu yang tidak akan hilang dari kehidupan kita selamanya. Hal ini sama seperti kehidupan nyata, akan selalu ada peristiwa-peristiwa atau insiden-insiden yang memperlihatkan adanya kekerasan verbal atau kekerasan fisik," tutur Enda.

Meskipun demikian, pria yang juga merupakan Koordinator Gerakan #BijakBersosmed ini mengatakan, hal tersebut tidak boleh semata-mata membuat seluruh pihak menutup mata bahwa fenomena tersebut memang berbahaya dan perlu diawasi.

"Tetapi tidak menutup mata juga bahwa memang ada insiden-insiden ekstrim lain yang terjadi di media sosial yang barang tentu telah membuat kita khawatir dan harus awas terhadap perkembangan yang terjadi di media sosial," katanya.

Dalam kesempatannya, Enda Nasution juga mengungkapkan, fenomena hoaks dan hate speech sejatinya juga memiliki faktor pemicu. Terlebih ketika di tahun 2014-2016 frekuensinya cukup tinggi, yang sampai hingga saat ini juga belum kunjung hilang.

"Namun demikian, bisa kita analisa bahwa memang penyebaran hoaks ini, juga dipicu oleh kejadian di dunia nyata terutama ketika ada konsentrasi politik, insiden bencana alam, hingga peristiwa nasional," ungkapnya.

Menjelang tahun politik 2024 mendatang, Enda juga mengungkapkan bahwasanya media sosial akan kembali dimanfaatkan menjadi arena peperangan opini. Pasalnya, jangkauan media sosial dan kemudahan aksesnya dipilih karena efisiensinya dalam penyebaran informasi.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 

Terkait


Komunikasi yang Baik dengan Anak Cegah Dampak Buruk Medsos

Wapres: Manfaatkan Media Sosial untuk Kebaikan

Wapres Ingatkan Saring Sebelum Sharing

Wapres Ingatkan Penggunaan Media Sosial Bisa Jadi Bencana

Islam Nusantara Foundation Kutuk Penghinaan Terhadap Ning Imaz

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark