Cerita di Balik Video ‘Duit Ora Payu’

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq

Rekap hasil penghitungan perolehan suara Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang memastikan kemenangan  Muhammad Umar Faruq.
Rekap hasil penghitungan perolehan suara Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang memastikan kemenangan Muhammad Umar Faruq. | Foto: Istimewa

REPUBLIKA.CO.ID, REMBANG -- Kultur pesantren yang mengakar kuat di lingkungan Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, membuktikan mampu mengalahkan ‘politik duit’ yang menyodorkan cara cara pragmatis untuk mendapatkan kekuasaan.

Meski masih dalam tataran kontestasi lingkup pemerintahan yang kecil (pemilihan kepala desa/pilkades) sebagian besar warga desa ini telah mengajarkan bahwa berapa pun nilainya, hati nurani tidak dapat ‘dibeli’.

Kisah inilah yang mencuat di balik viralnya rekaman video riuhnya ratusan warga yang mengarak dan mengelu-elukan seorang pria muda, sambil meneriakkan yel-yel “Duit ora payu… (Uang tidak laku, red.),” di sebuah jalanan desa yang dipenuhi warga.

Dalam unggahan video ini juga tercantum narasi yang menyebut sosok pria yang dielu-elukan merupakan calon terpilih tanpa politik uang. Sementara calon petahana kalah meski telah membagi-bagikan uang kepada warga.   

Dalam beberapa hari terakhir, video ini telah beredar di tengah-tengah masyarakat melalui media sosial (medsos) hingga mendapatkan banyak perhatian serta menjadi perbincangan yang ramai di kalangan warganet.

Dari penelusuran Republika.co.id, rekaman tersebut menjadi puncak sukacita dari proses pilkades di Desa Narukan, Kecamatan Kragan, yang berlangsung pada Ahad (2/10) kemarin.

Pria muda yang diarak dan dielu-elukan warga tersebut adalah Muhammad Umar Faruq, calon kepala desa yang unggul dalam perolehan suara, pada saat proses penghitungan hasil pilkades dilakukan.

“Betul, video itu yang merekam warga, saat proses penghitungan suara hampir rampung dan memastikan perolehan suara sepupu saya, Muhammad Umar Faruq tidak terkejar. Warga langsung mengarak dan megelu-elukannya,” jelas Zaimul Umam Nursalim.

Gus Umam, sapaan akrab Zaimul Umam Nursalim, menjelaskan dalam pilkades ini, memang hanya ada dua calon yang maju, yakni calon petahana, serta sepupunya, Muhammad Umar Faruq.

Setelah proses pilkades berlangsung hingga tahap penghitungan suara, Muhammad Umar Faruq memperoleh 709 suara. Sementara calon petahana hanya mampu mendapatkan dukungan sebanyak 330 suara.

“Sementara jumlah suara sah dalam pilkades ini mencapai 1.039 suara dari total daftar pemilih yang mencapai 1.100,” tegas Gus Umam yang tak lain merupakan saudara (adik) kandung KH Ahmad Bahauddin atau yang populer dengan panggilan Gus Baha.

Kendati begitu, jelasnya, kemenangan Muhammad Umar Faruq yang maju pilkades Narukan tanpa mengandalkan finansial ini  disebutnya lebih karena faktor kultur pesantren yang ada di lingkungan Desa Narukan.

Kebetulan hampir semua warga, baik yang sekarang sudah sepuh maupun yang muda, nyantri di Pondok Pesantren Alquran Narukan atau pondok yang dahulu didirikan oleh orang tuanya.

Selain itu, dalam lingkungan keluarga, sejak kakek dan orang tuanya, juga selalu menekankan bahwa interaksi sosial dengan lingkungan melalui pendekatan man kana yu’minu billahi wal yaumil akhiri fal yukrim jarahu menjadi sangat penting.

Sehingga pola pikir masyarakat di desanya juga tidak pragmatis, kapitalis, dan dalam memilih figur publik berdasarkan kualitas dan keteladanan. Masyarakat di Desa Narukan juga tidak mengedepankan cara- cara  transaksional.

Pada pilkades ini, masih kata Gus Umam, sepupunya maju juga atas dorongan dan kehendak masyarakat yang meninginkan adanya perubahan di pemerintahan Desa Narukan. “Setelah keluarga berembug, akhirnya merestui Dik Faruq untuk maju,” tegasnya.   

Terpisah, Muhammad Umar Faruq menyampaikan, selain kehendak masyarakat Narukan, salah satu motivasinya untuk maju dalam pilkades adalah ingin mengembalikan kultur asli masyarakat Narukan.

Sehingga ke depan jika memang ada orang yang benar-benar berkualitas dan berpotensi memimpin desanya dapat didukung dengan tulus oleh masyarakat tanpa harus memandang kemampuan finansial atau kekayaannya.

“Bahkan tidak hanya di Desa Narukan saja, syukur-syukur juga menjadi barometer bagi pencalonan atau kontestasi yang lain,” jelas pria yang akrab disapa Gus Faruq ini.

 

Terkait


Ormas dan LSM di Sleman Diajak Teguhkan Komitmen Anti Politik Uang

Politik Uang di Desa APU

Polri: Satgas Anti-Politik Uang Sudah Dibentuk

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark