Truk Khusus Sampah Organik dan Residu Disediakan di Tiap Depo

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Fernan Rahadi

Pekerja memilah sampah plastik di depo sampah, Giwangan, Yogyakarta, Rabu (18/1/2023). Pemerintah Kota Yogyakarta akan memusatkan pemilahan spah plastik dari 29 pasar rakyat ke depo sampah Giwangan. Langkah ini diambil untuk mendukung program nol sampah anorganik oleh Pemkot Yogyakarta.
Pekerja memilah sampah plastik di depo sampah, Giwangan, Yogyakarta, Rabu (18/1/2023). Pemerintah Kota Yogyakarta akan memusatkan pemilahan spah plastik dari 29 pasar rakyat ke depo sampah Giwangan. Langkah ini diambil untuk mendukung program nol sampah anorganik oleh Pemkot Yogyakarta. | Foto: Republika/Wihdan Hidayat

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menyediakan truk khusus pengangkut sampah organik dan sampah residu di tiap depo atau tempat pembuangan sementara (TPS) yang ada di Kota Yogyakarta.  Truk ini disediakan agar sampah organik dan sampah residu dapat dipisah.

Pemisahan dilakukan juga sebagai upaya untuk mengurangi volume sampah yang dibawa ke TPA Piyungan, Kabupaten Bantul. Selain itu, Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Aman Yuriadijaya juga menyebut pemisahan truk sampah organik dan residu tersebut untuk memudahkan masyarakat yang membawa sampahnya ke depo.

"Di depo sekarang ada dua truk. Satu truk untuk sampah organik dan satu truk untuk sampah residu," kata Aman belum lama ini.

Aman menjelaskan, penyediaan dua truk sampah terpisah di tiap depo juga untuk mendukung pengelolaan sampah. Sebab, sarana truk pengangkut di Kota Yogyakarta sampah juga sudah ditambah mengingat diterapkannya gerakan zero sampah anorganik.

Pemkot Yogyakarta telah menggelontorkan anggaran hampir Rp 25 miliar dalam APBD Perubahan 2022 ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta untuk pengadaan 20 unit truk. Sebagian besar truk yang disediakan yakni truk compactor, dan sebagian lainnya merupakan dump truck.

Penyediaan truk tersebut, katanya, termasuk tiga truk compactor dan dump truck untuk Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta. Sebab, dinas perdagangan juga bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah di 29 pasar tradisional di Kota Yogyakarta.

"Dengan truk compactor kita bisa mengepres sampah, sehingga kadar air bisa turun, dan bobot sampah yang dibawa ke TPA Piyungan bisa berkurang. Ini juga salah satu keseriusan kita mengelola sampah," ujar Aman.

Sejak diberlakukannya gerakan zero sampah anorganik di Kota Yogyakarta, volume sampah berkurang 15-17 ton per hari. Pihaknya menargetkan, setidaknya melalui gerakan tersebut dapat mengurangi 30 persen dari rata-rata total 250 ton sampah yang dibawa ke TPA Piyungan.

"Mudah-mudahan akhir Januari (2023) ada penambahan signifikan dari sampah yang dikelola, artinya sampah bisa turun. Targetnya yang dibawa ke Piyungan turun minimal 50 sampai 75 ton," jelasnya.

Kepala DLH Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto mengatakan, upaya pemisahan truk sampah organik dan residu terus digalakkan di depo atau TPS. Terutama di depo dan TPS yang lokasinya dapat menampung dua truk sampah.

"Di TPS yang bisa memuat dua truk atau lebih, sudah kita tulis kendaraan residu dan organik. Yang sudah misalnya di TPS Tompeyan dan Pengok," kata Sugeng.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 

Terkait


Sosialisasi Gerakan Zero Sampah Masih Perlu Digencarkan ke Pelaku Usaha

Hanya Dua Ton Sampah Pasar Ditargetkan Dibuang ke TPA Piyungan

Posko Pengawasan Sampah Yogyakarta untuk Kurangi Sampah Anorganik

Edukasi Gerakan Zero Sampah di Yogyakarta Digencarkan Lewat Mobil Keliling

Gerakan Zero Sampah Anorganik Disebut Signifikan Kurangi Volume Sampah di Yogyakarta

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

[email protected]

Ikuti

× Image
Light Dark