Selasa 07 Feb 2023 08:20 WIB

MICE dan Momen Nataru Topang Pemulihan Ekonomi DIY pada 2022

Ke depan perlu terus dikembangkan quality and responsible tourism.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Fernan Rahadi
Aktivitas pengunjung di sebuah hotel di kawasan Malioboro, DIY, Selasa (13/12/2022). Menurut Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY okupansi hotel di Yogyakarta meningkat dipicu tingginya kunjungan wisatawan untuk menikmati libur panjang
Foto: Antara
Aktivitas pengunjung di sebuah hotel di kawasan Malioboro, DIY, Selasa (13/12/2022). Menurut Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY okupansi hotel di Yogyakarta meningkat dipicu tingginya kunjungan wisatawan untuk menikmati libur panjang

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Bank Indonesia menyebut, tingginya intensitas Meeting, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) selama triwulan IV 2022 dan momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi di DIY. Yang mana selanjutnya meningkatkan kunjungan wisatawan ke DIY.

Kepala Perwakilan BI DIY, Budiharto Setyawan mengatakan, hal tersebut selanjutnya juga mendorong kinerja lapangan usaha (LU) terkait pariwisata. Mulai dari LU akomodasi makan minum, LU industri pengolahan, serta LU transportasi, dan LU pergudangan.

Peningkatan kunjungan wisatawan dikatakan berdampak positif terhadap kinerja hotel dan penginapan lainnya, restoran, hingga kafe di DIY. Salah satunya tercermin dari okupansi atau tingkat penghunian hotel berbintang di DIY yang hingga Desember 2022 rata-rata tercatat mencapai 98 persen.

"Berdasarkan hal tersebut, TPK (tingkat penghunian hotel) hotel di DIY tertinggi se-Indonesia. Penyediaan akomodasi dan makan minum memberikan andil pertumbuhan tertinggi pada 2022 yaitu 1,05 persen," kata Budi, Senin (6/2/2023) malam.

Dari sisi pengeluaran, Budi menyebut, membaiknya kinerja pariwisata dan peningkatan alokasi transfer pemerintah, termasuk dalam rangka menjaga daya beli masyarakat, mendukung kinerja positif Konsumsi rumah tangga. Sementara itu, berlanjutnya proyek strategis nasional di DIY turut mendorong tingginya pertumbuhan investasi.

"Membaiknya pendapatan masyarakat di triwulan IV 2022 terkonfirmasi dari peningkatan Indeks Penghasilan Konsumen (IPK) BI yang mengalami peningkatan dari 128,3 di triwulan III menjadi 129,8 di triwulan IV. Perbaikan ini mendorong peningkatan konsumsi masyarakat," lanjutnya.  

Budi menjelaskan, realisasi pertumbuhan ekonomi DIY triwulan IV 2022 mendukung pencapaian realisasi pertumbuhan keseluruhan tahun di atas lima persen. Ekonomi DIY yang tumbuh di atas lima persen itu, lanjut Budi, sesuai dengan perkiraan.

Berdasarkan rilis BPS pada triwulan IV 2022, pertumbuhan ekonomi DIY mampu mencapai 5,53 persen (yoy). Capaian tersebut dikatakan Budi menjadi yang tertinggi se-Jawa, dan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional triwulan IV 2022.

"Berdasarkan rilis BPS DIY, ekonomi DIY mencatatkan pertumbuhan 5,15 persen (yoy), sejalan dengan proyeksi BI DIY yakni 4,9 – 5,7 persen. Capaian ini angka pertumbuhan ekonomi Jawa tercatat 5,31 persen (yoy), sementara pertumbuhan nasional sebesar 5,31 persen (yoy). Secara y-on-y, pada triwulan IV 2022 pertumbuhan ekonomi DIY tertinggi dibandingkan provinsi lain se-Pulau Jawa," ujar Budi.

Sementara itu, pihaknya memperkirakan pertumbuhan ekonomi DIY di 2023 akan tumbuh positif, meskipun melambat dibandingkan tahun 2022. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi DIY tahun 2023 diperkirakan berada pada kisaran 4,60 persen hingga 5,40 persen (yoy).

"Perlambatan pertumbuhan ekonomi diperkirakan dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global yang memicu perlambatan ekonomi global, serta pengetatan kebijakan moneter, dan peningkatan suku bunga," tambahnya.

Di sisi lain, daya beli masyarakat diperkirakan masih cukup kuat untuk menahan perlambatan ekonomi yang lebih dalam. Pihaknya juga memperkirakan bahwa inflasi DIY pada 2023 akan lebih melandai dibandingkan dengan capaian 2022.

"Hingga akhir tahun 2023 inflasi DIY diperkirakan mencapai 3,1-3,9 persen (yoy), dan berada dalam rentang sasaran inflasi 3±1 persen (yoy)," kata Budi.

Seiring dengan tantangan perekonomian di tahun 2023, DIY diminta untuk optimis, namun tetap waspada. Sinergi dan inovasi, kata Budi, menjadi kata kunci dalam menjaga ketahanan dan kebangkitan ekonomi pasca-pandemi.

Selain itu, pembangunan infrastruktur dan transisi ke era digitalisasi juga perlu dioptimalkan guna mendorong sumber pertumbuhan ekonomi baru. Pembangunan infrastruktur dalam jangka pendek dinilai telah mendorong pertumbuhan lapangan usaha konstruksi di DIY.

Meski demikian, dalam jangka menengah dan panjang pasca-berakhirnya fase konstruksi, Budi menilai perlu disiapkan motor baru sebagai penopang ekonomi DIY. Demikian pula halnya dengan pengembangan pariwisata.

Menurutnya, ke depan perlu terus dikembangkan quality and responsible tourism untuk meningkatkan nilai tambah pariwisata terhadap perekonomian. Sejalan dengan itu, peningkatan produktivitas dan kelembagaan pertanian juga perlu didorong dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

"Sekaligus sebagai salah strategi pengendalian inflasi dan pengentasan kemiskinan," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement