Penting Pahami Pertolongan Pertama Gangguan Kesehatan Mental

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Fakhruddin

Penting Pahami Pertolongan Pertama Gangguan Kesehatan Mental (ilustrasi).
Penting Pahami Pertolongan Pertama Gangguan Kesehatan Mental (ilustrasi). | Foto: republika

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN -- Kesehatan mental salah satu kunci meraih hidup bahagia. Mental sehat membuat seseorang cenderung berpikir positif, sebaliknya seseorang yang memiliki masalah mental cenderung mudah menyikapi suatu tindakan dengan perasaan negatif.

Researching lecturer and certified instructor dari MHFA, Hana Morrisey menilai, isu-isu terkait kesehatan mental kini sudah sangat umum. Sehingga, dibutuhkan usaha mencegah dan mengobati orang yang sedang kena gangguan kesehatan mental.

Terlebih, ada begitu banyak isu-isu diskriminasi terhadap mereka yang mengalami gangguan mental. Selain itu, penting pula untuk bisa ditekankan kalau kesehatan mental ini masih perlu diedukasikan dan diinformasikan kepada banyak orang.

"Supaya tidak terjadi lagi hal-hal yang dapat memperburuk kondisi seseorang yang sedang terguncang mental," kata Hana dalam pelatihan yang digelar Prodi Farmasi Universitas Islam Indonesia (UII) dan Mental Health First Aid (MHFA) Inggris, Ahad (26/6).

Baca Juga

Ia menekankan, untuk pertolongan pertama kesehatan mental, kita perlu memahami ada suatu istilah yaitu algee. Ini merupakan langkah untuk pertolongan pertama kesehatan mental dan berisikan langkah-langkah yang perlu segera diterapkan.

Algee merupakan singkatan dari approach the person, assess and assist with any crisis, listen and communicate non-judgmentally, give support and information, encourage them to get appropriate professional help dan encourage other support.

"Ini merupakan salah satu cara untuk melakukan pertolongan pertama kesehatan mental dan perlu untuk dipahami bagaimana menjadi begitu penting dipelajari," ujar Hana.

Pada kesempatan itu, Hana tidak cuma menerangkan pertolongan pertama kesehatan mental. Ia turut menerangkan seputar kesehatan mental mulai pengertian kesehatan mental, depresi, faktor depresi yang berisiko, stigma dan tindakan diskriminasi.

Ketua Program Studi Farmasi UII, Saepudin menuturkan, kegiatan pelatihan secara daring ini dilakukan karena berdasarkan data yang ada. Apalagi, gangguan mental mengalami angka yang signifikan sejak 2018 dan topik ini masih jarang dibahas.

Baik secara umum maupun di lingkup sempit farmasi. Belum lagi, isu mental health hari ini di kalangan anak muda, cenderung banyak terjadi mispersepsi atau kita mengenal istilah berlebihan dalam melakukan self diagnose, depresi dan lainnya.

Menurut Saepudin, tujuan yang ingin dicapai dalam acara ini ke depannya lebih banyak orang yang sadar akan gangguan kesehatan mental dan cara menanganinya. Kemudian, siap untuk memberi pertolongan pertama ke orang-orang di sekitarnya.

"Yang sekiranya memiliki potensi gangguan mental," kata Saepudin.

Ia berharap, edukasi melalui agenda-agenda seperti ini dapat dilakukan secara berkelanjutan. Sehingga, tidak sampai cuma menjadi yang pertama dan terakhir, dan diharapkan memperluas kerja sama baik dengan lembaga dalam dan luar negeri.

"Terjadi inisiasi kerja sama baik dengan MHFA England maupun dengan MHFA Australia. Jadi, kita bisa mengadakan training-training berikutnya atau kita justru mungkin bisa menginisiasi," ujar Saepudin. 

 

Terkait


American Academy of Pediatrics Rekomendasikan Semua Remaja AS Diskrining Risiko Bunuh Diri

Tujuh Cara Menangkal Rasa Kesepian Menurut Pakar

8 Manfaat Menghabiskan Waktu dengan Alam untuk Kesehatan 

Psikolog: Literasi Kesehatan Mental Masih Rendah

Peneliti Pelajari Dampak Ponsel pada Kesehatan Mental

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark